Keanekaragaman Pterophyta
digunakan sebagai bioindikator kualitas ekosistem karena sensitivitasnya
terhadap perubahan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
keanekaragaman dan distribusi Pterophyta pada tiga tipe vegetasi hutan, yaitu
hutan tertutup, hutan terbuka, dan hutan pasca kebakaran di Tahura Raden
Soerjo. Metode yang digunakan adalah metode jelajah (cruise method)
dengan garis transek dan plot untuk memperoleh data komposisi spesies, indeks
ekologi, serta hubungannya dengan parameter fisika lingkungan. Data dianalisis
menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, indeks kemerataan Pielou, dan
indeks dominansi Simpson untuk menilai struktur komunitas; sedangkan Canonical
Correspondence Analysis (CCA) dan uji korelasi Pearson digunakan untuk
mengetahui hubungan antara distribusi spesies dengan parameter lingkungan
seperti intensitas cahaya, suhu, kelembaban, dan pH tanah. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa keanekaragaman pterophyta tertinggi ditemukan di hutan
tertutup, secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dua tipe vegetasi
lainnya, karena kondisi lingkungan yang stabil, lembap, dan intensitas cahaya
rendah yang mendukung pertumbuhan berbagai jenis paku. Spesies dominan dan
terdistribusi merata di hutan ini adalah Dryopteris adnata. Pada hutan
terbuka, keanekaragaman berada pada kategori sedang menuju tinggi, dengan
spesies seperti Dryopteris wallichiana yang umum ditemukan. Pada hutan
pasca kebakaran menunjukkan tingkat keanekaragaman paling rendah dan didominasi
oleh spesies toleran terhadap kondisi terganggu, seperti Selliguea enervis. Hasil
analisis CCA menunjukkan bahwa distribusi spesies dipengaruhi oleh parameter
lingkungan. Penelitian ini mendapatkan peran Pterophyta sebagai bioindikator
efektif untuk menilai kualitas ekosistem hutan, serta mendukung penerapannya
dalam strategi konservasi dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
(SDGs) 15.
Kata
kunci: Pterophyta, Bioindikator, Ekosistem Hutan, Tipe Vegetasi