Penciptaan Busana Gaya Androgyny Dengan Sumber Ide Tari Jathil Pada Kesenian Reog Ponorogo
Fashion Design Creation in Androgynous Style Inspired by the Jathil Dance in Reog Ponorogo
Indonesia memiliki kekayaan budaya yang dapat dijadikan sumber inspirasi dalam penciptaan karya busana, salah satunya adalah tari Jathil dalam kesenian Reog Ponorogo. Tari Jathil memiliki keunikan karena merepresentasikan perpaduan antara maskulinitas dan femininitas. Hal ini menjadi landasan utama dalam perancangan busana bergaya androgyny yang menggabungkan unsur maskulin dan feminin secara harmonis. Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk mendeskripsikan proses penciptaan busana gaya androgyny mendeskripsikan hasil jadi Penciptaan busana gaya androgyny dan mendeskripsikan Penyajian Penciptaan busana gaya androgyny, metode yang digunakan adalah practice-led research, yaitu pendekatan penelitian berbasis praktik melalui tahapan eksplorasi, perancangan, perwujudan, dan penyajian karya. Proses penciptaan diawali dengan pembuatan desain alternatif sketsa, desain alternatif kombinasi warna. Hasil dari penciptaan ini adalah tiga desain terpilih: satu busana laki-laki dan dua busana wanita. Karya pertama adalah busana laki-laki 3 piece yang terdiri dari atasan bawahan dan layer celana dengan menerapkan cutting lengkung sebagai simbol feminimitas. Karya yang kedua adalah busana Wanita 3 piece yang terdiri dari atasan berupa tanktop dan aplikasi siluet jathil dengan teksmo anyaman, bagian celana juga menerapkan cutting melengkung. Karya yang ketiga adalah busana Wanita 4 piece dengan siluet H yang terdiri dari atasan dengan cutting yang longgar, dipadukan dengan rok, layer rok di buat dengan membentuk siluet jathil dan di tambah aplikasi hiasan rambut. Penyajian penciptaan busana gaya androgyny ini di bagi menjadi tiga yaitu : pra-event, on-event dan pasca-event.
Kata Kunci: Androgyny, Jathil, Reog_Ponorogo, Teksmo
Indonesia has a rich cultural heritage that serves as a source of inspiration in fashion design, one of which is the Jathil dance in the Reog Ponorogo performance. This dance is unique because it represents a blend of masculinity and femininity. This duality becomes the main foundation in designing androgynous fashion that harmoniously combines masculine and feminine elements.The purpose of this creation is to describe the process of creating androgynous fashion, to explain the final outcomes of the design, and to present the fashion works. The method used is practice-led research, a practice-based research approach that involves the stages of exploration, design, realization, and presentation. The design process began with the creation of alternative sketches and color combinations.The result of this creation consists of three selected designs: one men's outfit and two women's outfits. The first is a 3-piece men's outfit comprising a top, bottom, and layered pants featuring curved cutting as a symbol of femininity. The second is a 3-piece women’s outfit consisting of a tank top, and curved-cut pants. The third is a 4-piece women’s outfit with an H-line silhouette, consisting of a loose-cut top paired with a skirt. The skirt's layer is shaped to resemble the Jathil silhouette and is complemented by hair ornaments.The presentation of the androgynous fashion creation is divided into three stages: pre-event, on-event, and post-event.
Keywords: Androgyny, Jathil, Reog_Ponorogo, Teksmo