Kesetaraan Gender dalam Diskusi "Mata Najwa": Analisis Wacana Kritis
Gender Equality in ''Mata Najwa" Discourse: A Critical Discourse Analysis
Mawarsih, P.B. 2025. Kesetaraan Gender dalam Diskusi “Mata Najwa”: Analisis Wacana Kritis. Tesis, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya. Pembimbing : (1) Prof. Dr. Kisyani Laksono, M.Hum., dan (2) Dr. Agusniar Dian Savitri, M.Pd
Kata kunci : Analisis Wacana Kritis, Kesetaraan Gender, Mata Najwa, Perempuan
Penelitian berjudul Kesetaraan Gender dalam Diskusi “Mata Najwa”: Analisis Wacana Kritis bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk-bentuk kesetaraan gender posisi subjek-objek dalam diskusi “Mata Najwa” (2) bentuk-bentuk kesetaraan gender posisi penonton dalam diskusi “Mata Najwa” (3) mengungkap ideologi dan kekuasaan dalam diskusi “Mata Najwa”. Penelitian ini memanfaatkan teori analisis wacana kritis model Sara Mills. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis wacana kritis Sara Mills untuk mengungkap makna tersembunyi dan ketimpangan gender dalam diskusi publik. Data penelitian berupa kata, frasa, dan kalimat dari empat episode Mata Najwa yang membahas kesetaraan gender, yaitu “Susahnya Jadi Perempuan”, “Susahnya Jadi Perempuan Part 2”, “Enaknya Jadi Laki-Laki”, dan “Women in Power”. Sumber data juga mencakup komentar penonton yang relevan, dipilih melalui teknik purposive sampling. Penelitian dilaksanakan pada April hingga Desember 2024. Instrumen yang digunakan adalah tabulasi data untuk mengorganisasi analisis posisi subjek-objek dan tanggapan penonton. Teknik pengumpulan data meliputi menyimak, mencatat, transkripsi, dan dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif dan interpretatif melalui proses pengkodean, penyusunan tema, dan visualisasi dalam bentuk tabel atau grafik untuk menelaah representasi kekuasaan, ideologi, dan norma gender dalam wacana.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan ditampilkan sebagai subjek yang aktif dan berkontribusi dalam berbagai bidang, tetapi tetap sering diposisikan sebagai objek dalam kerangka budaya patriarki. Tayangan menghadirkan perempuan secara ambivalen, sebagai agen perubahan sekaligus sebagai simbol yang terikat norma sosial. Penonton tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga aktor aktif yang membentuk makna melalui komentar-komentar kritis di YouTube, menyoroti isu-isu seperti kekerasan seksual, stereotip gender, dan ketimpangan peran domestik. Analisis juga menunjukkan bahwa ideologi patriarki masih mendominasi struktur sosial dan media, tetapi munculnya perspektif feminis dari narasumber dan audiens menandai adanya resistensi terhadap relasi kuasa yang timpang. Dengan demikian, Mata Najwa menjadi ruang penting dalam pembentukan wacana publik yang lebih adil dan setara.
Mawarsih, P.B. 2025. Gender Equality in the “Mata Najwa” Discussion: A Critical Discourse Analysis. Thesis, Language and Literature Education Study Program, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya. Supervisors: (1) Prof. Dr. Kisyani Laksono, M.Hum., and (2) Dr. Agusniar Dian Savitri, M.Pd.
Keywords: Critical Discourse Analysis, Gender Equality, Mata Najwa, Women
This study titled Gender Equality in the “Mata Najwa” Discussion: A Critical Discourse Analysis aims to describe (1) the forms of gender equality based on subject-object positions in the Mata Najwa discussion, (2) the forms of gender equality from the audience’s position in the Mata Najwa discussion, and (3) to uncover the ideologies and power structures within the Mata Najwa discussions. The research employs Sara Mills’ model of critical discourse analysis to reveal hidden meanings and gender inequalities in public discourse. This qualitative descriptive research uses words, phrases, and sentences from four Mata Najwa episodes discussing gender equality: Susahnya Jadi Perempuan, Susahnya Jadi Perempuan Part 2, Enaknya Jadi Laki-Laki, and Women in Power. Audience comments were also included as data sources, selected through purposive sampling. The research was conducted from April to December 2024. The instrument used was data tabulation to organize the analysis of subject-object positions and audience responses. Data collection techniques included listening, note-taking, transcription, and documentation. The data were analyzed descriptively and interpretively through coding, theme development, and visualization in the form of tables or graphs to examine the representation of power, ideology, and gender norms in discourse.
The results indicate that women are portrayed as active and contributing subjects in various fields, yet they are still frequently positioned as objects within the framework of patriarchal culture. The program presents women ambivalently—both as agents of change and as figures constrained by social norms. The audience plays an active role, not only receiving messages but also shaping meaning through critical comments on YouTube, highlighting issues such as sexual violence, gender stereotypes, and the unequal distribution of domestic roles. The analysis reveals that patriarchal ideology still dominates social and media structures, but the emergence of feminist perspectives from both speakers and audiences signals resistance to unequal power relations. Mata Najwa, therefore, serves as a crucial space for shaping public discourse toward greater gender equality and justice.