Peran Kelompok Campursari Dalam Pelestarian Budaya Tradisional Di Sanggar Madu Mulyo Kabupaten Sidoarjo
The Role of Campursari Groups in Preserving Traditional Culture at the Madu Mulyo Studio, Sidoarjo Regency
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran terhadap meredupnya eksistensi kesenian tradisional, khususnya Campursari, akibat arus modernisasi dan globalisasi. Campursari sebagai musik tradisional Jawa mulai kehilangan peminat di kalangan generasi muda. Dalam situasi ini, Sanggar Madu Mulyo di Kabupaten Sidoarjo tetap konsisten melestarikan Campursari melalui pendekatan komunitas dan pendidikan nonformal sejak berdiri tahun 2002. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran kelompok Campursari dalam pelestarian budaya tradisional serta tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan keberlanjutan kesenian tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori peran (Ralph Linton), pelestarian budaya (A.W. Widjaja), budaya tradisional (E.B. Tylor), serta konsep sanggar (Edi Sedyawati). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sanggar Madu Mulyo berperan secara edukatif, artistik, dokumentatif, dan kultural dalam menjaga nilai-nilai budaya Jawa. Namun, tantangan seperti kurangnya dukungan dana, minimnya regenerasi anggota, dan dominasi budaya populer menjadi hambatan utama. Kesimpulannya, Sanggar Madu Mulyo memainkan peran penting sebagai pelestari budaya yang perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak agar kesenian tradisional tetap lestari.
This research is motivated by concerns about the fading existence of traditional arts, especially Campursari, due to the currents of modernization and globalization. Campursari as traditional Javanese music is starting to lose interest among the younger generation. In this situation, Sanggar Madu Mulyo in Sidoarjo Regency has consistently preserved Campursari through a community approach and non-formal education since its establishment in 2002. This research aims to examine the role of the Campursari group in preserving traditional culture and the challenges faced in maintaining the sustainability of this art. The method used is descriptive qualitative with interview, observation, and documentation techniques. Data analysis was carried out using role theory (Ralph Linton), cultural preservation (A.W. Widjaja), traditional culture (E.B. Tylor), and the concept of sanggar (Edi Sedyawati). The results of the study indicate that Sanggar Madu Mulyo plays an educational, artistic, documentary, and cultural role in maintaining Javanese cultural values. However, challenges such as lack of financial support, minimal regeneration of members, and the dominance of popular culture are the main obstacles. In conclusion, Sanggar Madu Mulyo plays an important role as a cultural preserver that needs support from various parties so that traditional arts remain sustainable.