REPRESENTASI PEREMPUAN BERDAYA PADA KAMPANYE ONLINE INSTAGRAM @PEREMPUANBERKISAH
Representation of Empowered Women in the Instagram Online Campaign @perempuanberkisah
Rendahnya angka kesetaraan gender di Indonesia menempatkan negara ini berada pada peringkat ke-97 dari 148 negara menurut Global Gender Gap Report 2025. Budaya patriarki yang masih dianut oleh sebagian masyarakat memperparah kondisi karena memicu diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan. Perempuan selalu diletakkan pada posisi ‘subordinat’, menjadikan posisi perempuan dipandang lebih rendah daripada laki-laki. Komunitas Perempuan Berkisah hadir menggunakan media sosial Instagram sebagai wadah edukasi dan kampanye untuk menyuarakan isu-isu perempuan, salah satunya pemberdayaan. Gagasan mengenai keberdayaan perempuan muncul sebagai bentuk pemikiran kritis yang bertujuan untuk meruntuhkan dominasi struktur patriarki.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjabarkan bagaimana representasi perempuan berdaya dibentuk dalam kampanye online di akun Instagram @perempuanberkisah. Penelitian ini menggunakan metode Analisis Wacana Kritis (AWK) Michel Foucault yang berfokus pada dua tahapan utama yakni, arkeologi pengetahuan dan genealogi kekuasaan. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif dengan paradigma kritis. Unit analisis yang digunakan terdiri dari tiga konten unggahan dengan narasi berdaya sebagai pokok bahasan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pergeseran narasi dari konsep perempuan berdaya yang semula bersifat sosial-politik dan kolektif menjadi lebih individualistik. Wacana yang dibangun oleh @perempuanberkisah sering kali menyamakan definisi berdaya dengan konsep penerimaan diri dan kemandirian personal. Representasi ini memiliki kesamaan dengan ideologi feminisme liberal dan neoliberal yang menekankan pada pilihan individu dan kemampuan ekonomi personal tanpa secara radikal mempertanyakan struktur patriarki yang ada. Pada akhirnya, beban menjadi berdaya diletakkan sepenuhnya kepada pundak individu perempuan, sehingga berpotensi mengaburkan tuntutan akan perubahan struktural dan kebijakan publik.
Indonesia's low gender equality rate ranks it 97th out of 148 countries according to the Global Gender Gap Report 2025. The patriarchal culture still embraced by some communities, fueling discrimination and violence against women. Women are consistently placed in a subordinate position, making them perceived as inferior to men. The Perempuan Berkisah (Women's Stories) community uses Instagram as an educational and campaign platform to voice women's issues, one of which is empowerment. The idea of women's empowerment emerged as a form of critical thinking aimed at dismantling patriarchal structures.
The purpose of this study is to describe how representations of empowered women are shaped in online campaigns on the Instagram account @perempuanberkisah. This research uses Michel Foucault's Critical Discourse Analysis (CDA) method, focusing on two main stages: the archaeology of knowledge and the genealogy of power. This research is qualitative with a critical paradigm. The unit of analysis consists of three content posts with empowering narratives as the main topic.
The research results show a narrative shift from the original socio-political and collective concept of empowered women to a more individualistic one. The discourse constructed by @perempuanberkisah often equates the definition of empowerment with the concepts of self-acceptance and personal independence. This representation shares similarities with liberal and neoliberal feminist ideologies, which emphasize individual choice and personal economic capabilities without radically breaking through existing patriarchal structures. Ultimately, the burden of empowerment rests entirely on the shoulders of individual women, thus enabling demands for structural change and public policy.