Gambaran Loneliness pada Anak Tunggal
Anak tunggal berisiko mengalami kesepian karena tidak memiliki figur sebaya dalam keluarga yang dapat dijadikan tempat berbagi. Meskipun dikelilingi lingkungan sosial, interaksi yang kurang bermakna dapat memicu perasaan kesepian. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman loneliness pada anak tunggal. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif fenomenologi dengan tiga subjek perempuan berusia 18-21 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Uji Keabsahan dilakukan melalui member checking. Hasil menunjukkan bahwa kesepian dialami dalam bentuk rasa tidak dipahami, penolakan sosial, kebosanan, dan keterbatasan ruang aman emosional. Atribusi terhadap kesepian bervariasi antara menetap dan situasional. Kesimpulannya kesepian pada anak tunggal bersifat personal dan terkait dengan minimnya dukungan emosional yang setara.
An single child runs the risk of loneliness because of not having a peer figure in the family that one can share. Though surrounded by a social environment, a lack of meaningful interaction can trigger feelings of loneliness. This study was intended to describe loneliness in an loneliness in an only child. The approach used is qualitative phenomenon with three 18-21 year-old female subjects. Data collected through semi-structured interviews and analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). A validity test was made through member checking. The results suggest that loneliness is experienced in the form of ignorance, social rejection, boredom, and emotional security limitations. Attribution to loneliness varies between settling and situational. In conclusion, loneliness in a single child is personal and is associated with the lack of emotional support.