The Roles of Direct Communication Strategies in English as Lingua Franca to the Retention of Indonesian Seafarers on Board
Industri pelayaran maritim terus berkembang karena mampu mengangkut berbagai jenis muatan dalam jumlah besar dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. Oleh karena itu, banyak industri manufaktur memilih pengiriman komoditas melalui berbagai jenis kapal. Armada internasional ini berada di bawah naungan Organisasi Maritim Internasional atau International Maritime Organization (IMO). Dalam konvensi internasional, organisasi ini menetapkan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa laut, karena awak kapal atau pelaut berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Komunikasi dalam bahasa Inggris menjadi wajib karena komunikasi internal dan eksternal di atas kapal harus dilakukan dalam bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Inggris di atas kapal dilakukan dalam berbagai kegiatan navigasi, penggunaan radio frekuensi sangat tinggi (Very High Frequency/VHF) dalam kegiatan seperti pengisian bahan bakar (bunkering) atau bahkan dalam situasi darurat (distress situations). Oleh karena itu, meneliti strategi komunikasi langsung (direct communication strategies) dalam kaitannya dengan retensi pelaut Indonesia dalam konteks Bahasa Inggris sebagai Lingua Franca (English as a Lingua Franca/ELF) perlu dilakukan, guna mengungkap strategi komunikasi langsung yang digunakan pelaut Indonesia, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan strategi tersebut dalam konteks ELF, menganalisis pengaruh strategi komunikasi langsung terhadap retensi pelaut Indonesia di atas kapal, serta mendeskripsikan faktor-faktor lain selain strategi komunikasi langsung yang memengaruhi retensi pelaut Indonesia di atas kapal.
Karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis strategi komunikasi langsung yang digunakan oleh pelaut Indonesia, maka desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari rekaman audio atas interaksi alami serta wawancara semi-terstruktur. Data kemudian dianalisis dan diinterpretasikan untuk memperoleh temuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi komunikasi langsung yang dilaporkan digunakan oleh pelaut Indonesia dalam konteks ELF mencakup: pendekatan (approximation), pengembangan kosakata, circumlocution (penjelasan berputar), penerjemahan secara harfiah, pengecekan pemahaman, permintaan klarifikasi, konfirmasi, bahasa tubuh dengan ekspresi wajah dan kontak mata, pengejaan alfabet maritim, penggunaan kata sederhana, mendengarkan dengan saksama, serta pengamatan gerakan bibir. Selanjutnya, strategi komunikasi langsung yang benar-benar digunakan oleh pelaut Indonesia di atas kapal mencakup: pendekatan, konfirmasi, jeda bicara (pausing), pengulangan, pengejaan alfabet maritim, circumlocution, permintaan klarifikasi, bahasa tubuh, penerjemahan secara harfiah, dan penyederhanaan kata.
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan strategi komunikasi langsung oleh pelaut Indonesia dalam konteks ELF adalah keberagaman budaya, kondisi cuaca, tuntutan operasional, kecakapan berbahasa Inggris, operasional kerja, hubungan interpersonal, serta pelatihan dan standar maritim. Selanjutnya, strategi komunikasi langsung yang digunakan berpengaruh terhadap retensi pelaut Indonesia di atas kapal dengan cara meningkatkan kolaborasi di tempat kerja, meningkatkan keselamatan dan efisiensi, mengurangi hambatan bahasa, serta membantu penyelesaian konflik. Terakhir, faktor-faktor lain selain strategi komunikasi langsung yang berkontribusi terhadap retensi pelaut Indonesia di atas kapal antara lain adalah kesejahteraan pribadi, kepuasan terhadap durasi waktu berlayar, keseimbangan kerja dan kehidupan, kondisi kerja di atas kapal, dukungan perusahaan dan peluang pengembangan karier, dukungan keluarga, serta manajemen dan kepemimpinan.
Kata Kunci: strategi komunikasi langsung, retensi, pelaut Indonesia, Bahasa Inggris sebagai lingua franca
Maritime shipping industries grow larger since they can transport different types of cargoes in a huge quantity at a lower cost than other means of transportation. Therefore, many manufacturing industries choose the commodity delivered by different types of ships. These international fleets are under the International Maritime Organization or IMO. In the international convention, this organization stated that English is the language of the sea since the crew or the seafarers are from various countries including Indonesia. English communications are compulsory since the internal and external communication on board must be conducted in English. The using of English on board is performed in navigation activities, Very High Frequency (VHF) Radio in several activities such as bunkering or even in the distress situations. Therefore, investigating the direct communication strategies for the retention of Indonesian seafarers in English as Lingua Franca must be explored to to investigate the direct communication strategies used by Indonesian seafarers, to reveal the factors that influence the Indonesian seafarers in using the direct communications strategies in the ELF context, to analyze the effects of direct communication strategies on the Indonesian seafarers' retention on board also to describe the other factors than the direct communication strategies on the Indonesian seafarers' retention on board.
Since this study was intended to describe the types of direct communication strategies employed by the Indonesian seafarers, a descriptive qualitative design was employed in this study. The data were from the audio recordings of naturally occurring sounds and semi-structured interviews. Then the data were analyzed and interpreted to get the findings. The results of this study showed that the direct communication strategies which were reported used by the Indonesian seafarers in the ELF context consisted of approximation, word development, circumlocution, translation in its literal sense, check for comprehension, request for clarification, confirmation check, body language with the facial expression and eye contact, maritime alphabet spelling, the using of simple word, careful listening, and lips movements observation. Then, the direct communication strategies which were actually used by the Indonesian seafarers on board were the approximation, confirmation check, pausing, repetition, use maritime alphabet spelling, circumlocution, request for clarification, body language, translation in its literal sense, and word simplification. Next, the factors that influenced the Indonesian seafarers in using the direct communication strategies in the ELF context were cultural diversity, weather condition, operational demands, English proficiency, work operational, interpersonal relationship, then training and maritime standard. Furthermore, the direct communication strategies used affect the Indonesian seafarers’ retention on board by improving workplace collaboration, increased safety and efficiency, reduced the language barriers, conflict solutions. Finally, the other factors than the direct communication strategies that helped the Indonesian seafarers’ retention on board are the personal wealth, sailing time period satisfaction, work-life balance, on board working condition, company support and career development opportunities, family support, then management and leadership.
Keywords: direct communication strategies, retention, Indonesian seafarers, English as lingua franca