TOKOH PUNAKAWAN SEBAGAI REPRESENTASI KEHIDUPAN DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
THE PUNAKAWAN CHARACTERS AS A REPRESENTASION OF LIFE IN THE CREATION OF PAINTING ARTWORKS
Tokoh Punakawan merupakan karakter ikonik dalam pewayangan jawa yang memiliki peran penting dalam memberikan sentuhan komedi, satir, dan filosofi dalam cerita. Tokoh-tokoh Punakawan terdiri dari Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong yang secara karakteristik mewakili pada umumnya manusia dengan segala tingkah laku dan perangai ciri khas mereka masing-masing. Dalam kehidupan zaman sekarang ini tentu sudah banyak perkembangan terutama budaya dan teknologi. Namun hal ini tidak semua berdampak baik. Kemerosotan nilai moral, perilaku dan sikap sosial menjadi dampak negatif dikehidupan modern ini. Perupa mengeksplorasi ide tersebut tentang tokoh punakawan sebagai representasi kehidupan modern. Tujuan dari penciptaan ini untuk mengeskplorasi ide dan menciptakan karya seni lukis tentang tokoh punakawan sebagai representasi kehidupan dengan gaya pop art. Metode yang digunakan Practice-led Research atau Pre-factum dengan empat tahapan yaitu, tahap persiapan, tahap mengimajinasi, tahap pengembangan, dan tahap pengerjaan. Karya yang dihasilkan sebanyak empat antara lain “Who's Semar?", “Gareng Avoided”, “Si kanthong Bolong”, “Try to Think” masing-masing ukuran 120cm x 130cm dengan media akrilik diatas kanvas. Penciptaan ini tidak hanya tentang visualisasi bentuk karya, tetapi juga menyimpan makna dan nilai moral yang tentu sangat bermanfaat bagi perupa maupun orang lain.
The Punakawan characters are iconic figures in Javanese wayang (shadow puppetry), playing a vital role in bringing elements of comedy, satire, and philosophy to the narrative. The Punakawan consist of Semar, Petruk, Gareng, and Bagong, each uniquely representing various human traits and behaviors through their distinct characteristics. In today’s modern era, there have been significant developments, particularly in culture and technology. However, not all of these changes have been positive—moral decline, behavioral issues, and deteriorating social attitudes are among the negative impacts of modern life. The artist explores the idea of the Punakawan figures as representations of contemporary life. The purpose of this creation is to explore and express these ideas through the medium of painting, using the pop art style. The method used is Practice-led Research or Pre-factum, which consists of four stages: preparation, imagination, development, and execution. The resulting works consist of four paintings titled "Who's Semar?", "Gareng Avoided", "Si Kanthong Bolong", and "Try to Think", each measuring 120cm x 130cm and created with acrylic on canvas. This artistic creation is not solely concerned with the visualization of form, but also conveys profound meaning and moral values that are beneficial both to the artist and to others.