Relawan Demokrasi yang dibentuk oleh Komisi Pemilihan Umum merupakan gerakan sosial yang ditujukan untuk menggerakan pemilih agar aktif dalam tahapan pemilihan. Untuk mencapai target tingkat partisipasi masyarakat yang telah ditetapkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebesar 77,5% dan menghadapi tantangan bahwa Pemilihan Serentak Tahun 2020 diselenggarakan di tengah masa pandemi virus Covid-19, KPU Kota Surabaya membentuk program relawan demokrasi yang menjadi mitra KPU dalam menjalankan agenda sosialisasi dan pendidikan pemilih berbasis di Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan prespektif teori Tindakan Sosial oleh Max Weber. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa Relawan Demokrasi yang dibentuk oleh KPU Kota Surabaya pada PILWALI 2020 telah melakukan perananya sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya yaitu memberikan informasi tentang pelaksanaan PILWALI 2020 dan mengajak masyarakat Kota Surabaya untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilihan walikota dan wakil walikota Surabaya tahun 2020. Dalam menjalan agenda sosialisas, terdapat kendala yang dialami oleh relawan demokrasi diantaranya yaitu pembekalan yang kurang maksimal, masa kerja yang terlalu singkat, pandemi, anggaran yang terbatas, keanggotaan yang kurang aktif, hingga pembagian perlengkapan sosialisasi yang datang terlambat. Selain itu, KPU Kota Surabaya juga tidak melakukan pengawasan secara langsung ketika relawan demokrasi melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
The Democracy Volunteers formed by the Election Commission is a social movement aimed at mobilizing voters to be active in the election stage. To achieve the target level of community participation that has been set in the National Medium-Term Development Plan (RPJMN) of 77.5% and face the challenge that the 2020 Simultaneous Elections are held in the midst of the Covid-19 virus pandemic, KPU Surabaya City formed a democracy volunteer program that became kpu's partner in carrying out the agenda of socialization and voter education based in the city of Surabaya. This research uses qualitative methods with a perspective on the theory of Social Action by Max Weber. The results of this study show that the Democracy Volunteers formed by the Surabaya City KPU in PILWALI 2020 have not performed their role optimally because democracy volunteers have not been able to build public awareness and volunteerism of the people of the City of Surabaya to vote for PILWALI 2020. This is because not all democratic volunteer bases deliver materials that can build public awareness. Democracy volunteers are focused only on delivering election times, introducing candidates' spouses, and voting procedures properly. Thus, this can be one of the factors that the increase in the number of community participation in PILWALI 2020 has not increased significantly. The socialization strategy carried out by KPU Surabaya City democracy volunteers is different in each base including door to door, cooperation with organizations, online, simulations, discussions to participate in citizen forums.