Parodi Penggambaran Perempuan Disney sebagai Tema Penciptaan Karya Digital Painting
Parody of Disney Female Characters as the Theme for the Creation of Digital Painting
Parodi merupakan bentuk kritik atau sindiran yang dilakukan melalui peniruan dan modifikasi elemen suatu karya atau fenomena budaya. Dalam konteks seni rupa, parodi bukan hanya sebagai bentuk humor atau hiburan, tetapi juga sebagai media ekspresi kritik sosial dan pembongkaran konstruksi visual yang telah mapan. Parodi dalam seni rupa dapat memanipulasi elemen visual untuk menyampaikan pesan yang menyindir atau menantang representasi yang dominan—dalam hal ini, citra ideal perempuan yang selama ini dipertahankan Disney.
Parodi sebagai tema dalam penciptaan karya seni digital painting yang mengangkat penggambaran perempuan dalam film animasi Disney dengan tujuan adalah mendeskripsikan konsep parodi penggambaran perempuan Disney, memvisualisasikan parodi tersebut dalam bentuk karya seni digital, serta menganalisis bagaimana parodi dapat berfungsi sebagai alat kritik sosial terhadap representasi perempuan yang seringkali sarat dengan stereotip gender dan ideologi patriarkal. Pemilihan media digital painting karena kemampuannya dalam menawarkan fleksibilitas visual, efisiensi waktu, kemudahan editing, serta kebebasan dalam eksplorasi warna, bentuk, dan tekstur.
Metode penciptaan karya merujuk pada teori Sp. Gustami, yang mencakup tiga tahap utama: eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Pada tahap eksplorasi, perupa menggali isu representasi perempuan dalam film Disney yang dibawa fenomena tren visual terkini seperti budaya konsumerisme dan digital. Tahap perancangan dilakukan dengan menyusun konsep visual berdasarkan adegan film yang dipilih dan merekonstruksinya dalam bentuk parodi dengan pendekatan visual masa kini. Tahap perwujudan dilaksanakan dengan proses digital menggunakan aplikasi Procreate di perangkat tablet iPad, dimulai dari pembuatan sketsa, outline, pewarnaan dasar, hingga detailing dan finishing.
Sebanyak 10 karya digital painting dihasilkan dalam penciptaan ini, terdiri dari 5 karya berukuran 70x70 cm dicetak di atas kanvas, dan 5 karya potret berukuran 45x55 cm dicetak di atas akrilik. Karya-karya ini ditampilkan dalam format dua dimensi dengan teknik cetak digital sebagai bentuk penyajian final, disusun dalam ruang pameran untuk memberikan pengalaman visual kepada audiens sekaligus sebagai ruang diskusi kritis atas representasi perempuan dalam media populer.
Karya ini diharapkan dapat menjadi refleksi terhadap konstruksi identitas perempuan yang selama ini disebarkan oleh media arus utama, sekaligus mendorong pemaknaan ulang melalui medium seni digital yang relevan dan komunikatif.
Parody is a form of critique or satire conveyed through the imitation and modification of elements from a work or cultural phenomenon. In the context of visual arts, parody is not merely a tool for humor or entertainment but also serves as a medium for social critique and the deconstruction of established visual constructs. In visual art, parody can manipulate visual elements to deliver messages that challenge or satirize dominant representations—specifically, the idealized image of women perpetuated by Disney.
This body of work explores parody as a theme through digital painting, focusing on the portrayal of women in Disney animated films. The objectives are to describe the concept of parody in relation to Disney's depiction of women, to visualize this parody through digital artwork, and to analyze how parody can function as a tool for social critique against representations of women that are often laden with gender stereotypes and patriarchal ideologies.
The choice of digital painting as a medium stems from its visual flexibility, time efficiency, ease of editing, and freedom in exploring color, form, and texture. The creative process is based on Sp. Gustami’s three-stage methodology: exploration, design, and realization. In the exploration stage, the artist investigates issues of female representation in Disney films, contextualized within current visual culture trends such as consumerism and digital aesthetics. The design stage involves composing visual concepts based on selected film scenes and reconstructing them into parodic forms using a contemporary visual approach. The realization stage is carried out digitally using the Procreate application on an iPad, starting with sketching, outlining, base coloring, and proceeding to detailing and final touches.
A total of 10 digital paintings were produced, consisting of five square-format works (70x70 cm) printed on canvas and five portrait-format works (45x55 cm) printed on acrylic. These two-dimensional artworks are presented using digital print techniques as the final format and displayed in an exhibition setting to offer a visual experience for the audience as well as a space for critical dialogue regarding the portrayal of women in popular media.
This project aims to serve as a reflection on the construction of female identity as disseminated by mainstream media, while also encouraging reinterpretation through a relevant and communicative digital art medium.