Model Kehumasan Dua Arah Untuk Membangun Kepercayaan Publik (Studi Kasus Pemerintah Kabupaten Nganjuk)
Two Way Public Relations Models To Build Public Trust (Case Study of Nganjuk District Government)
Penelitian ini dilaksanakan atas dasar masalah yang dihadapi oleh humas Pemerintah Kabupaten Nganjuk pascakrisis akibat kasus korupsi yang melibatkan Bupati Nganjuk periode 2014-2017, Taufiqurrahman sehingga menurunkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Oleh karena itu, peneliti ingin meneliti inovasi program kehumasan yang mengadaptasi konsep model kehumasan dua arah Grunig dan Hunt sudah sampai pada level apa serta bagaimana kepercayaan masyarakat yang terbentuk akibat adanya inovasi kehumasan yang baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan model kehumasan dua arah untuk membangun kepercayaan publik pada Pemerintah Kabupaten Nganjuk ditinjau dari aktivitas dan dampak yang ditimbulkan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan menggunakan wawancara serta studi dokumentasi untuk memperoleh data penelitian. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini yakni aparatur pemerintahan Pemkab Nganjuk serta masyarakat pemohon bantuan pemerintah yang juga telah memantau aktivitas kehumasan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini dilaksanakan di kantor Pemerintah Kabupaten Nganjuk selama kurun waktu empat bulan. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, display data, serta verifikasi dan penegasan kesimpulan.
Hasil yang diperoleh dari penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Nganjuk sedang mengembangkan kehumasan “pro-rakyat” agar kepercayaan publik dapat dibangun kembali. Kehumasan dua arah di Nganjuk memiliki karakter menyesuaikan dengan realitas sosial berdasarkan hasil riset. Pemerintah mengandalkan opinion leader dalam memengaruhi mobilisasi masyarakat. Strategi kehumasan dijalankan melalui dialog tatap muka pada program Tilik Desa dan Jumat Berkah, didukung dengan kehumasan digital yakni LAPOR!. Model kehumasan Grunig dan Hunt yang terjadi merupakan model two way asymmetrical dilihat dari kenyataan bahwa meskipun interaktivitas mulai dibangun, masih banyak kecondongan yang mengarah pada kepentingan pemerintah saja. Komunikasi kehumasan digital juga kurang diminati oleh masyarakat Nganjuk karena belum bisa dijalankan secara efektif.
Kata kunci: Kehumasan pemerintahan, model kehumasan Grunig dan hunt, two- way asymmetrical
This research was carried out on the basis of the problems faced by the post-crisis Nganjuk District Government public relations due to a corruption case involving the Nganjuk Regent for the 2014-2017 period, Taufiqurrahman, thereby reducing public trust in the government. Therefore, the researcher wants to research public relations program innovations that adapt the concept of Grunig and Hunt's two-way public relations model to what level and how public trust is formed as a result of new public relations innovations. The purpose of this study is to describe how the application of a two-way public relations model to build public trust in the Nganjuk Regency Government in terms of its activities and impacts.
The method used in this research is a case study using interviews and documentation studies to obtain research data. The subjects used in this study were government officials of the Nganjuk Regency Government and the people requesting government assistance who had also monitored public relations activities carried out by the Nganjuk Regency Government. This research was conducted at the Nganjuk Regency Government office for a period of four months. The data analysis technique used is data collection, data reduction, data display, and verification and confirmation of conclusions.
The results obtained from the study indicate that the Nganjuk Regency Government is developing “pro-people” public relations so that public trust can be rebuilt. Two-way public relations in Nganjuk has a character that adapts to social reality based on research results. The government relies on opinion leaders in influencing community mobilization. The public relations strategy is carried out through face-to-face dialogue on the Tilik Desa and Friday Blessing programs, supported by digital public relations, namely LAPOR !. Grunig and Hunt's public relations model that occurs is a two-way asymmetrical model, seen from the fact that even though interactivity has begun to be built, there are still many tendencies that point to the interests of the government alone. The Nganjuk community is also less interested in digital public relations communication because it cannot be carried out effectively.
Keywords: government public relations, Grunig and Hunt public relations models, two- way asymmetrical