PROSTITUSI TERSELUBUNG PELAYAN WARUNG ANGKRINGAN (Studi di Warung Angkringan Kabupaten Jombang)
COVERT PROSTITUTION OF ANGKRINGAN STALL WAITER (Study at Angkringan Stalls in Jombang Regency)
Prostitusi terselubung merupakan fenomena sosial yang kompleks karena berlangsung di ruang-ruang yang tidak terduga dan menyamarkan praktik utamanya. Salah satunya terjadi di warung angkringan di Kabupaten Jombang, sebuah ruang sosial yang semestinya hanya berfungsi sebagai tempat berkumpul masyarakat. Fenomena ini tidak hanya dipicu oleh faktor ekonomi, tetapi juga diperkuat oleh lingkungan sosial, budaya dan lemahnya pengawasan. Penelitian ini penting dilakukan untuk memahami dinamika prostitusi terselubung yang jarang diangkat dalam penelitian sosiologi, khususnya di konteks warung angkringan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk praktik prostitusi terselubung yang dilakukan pelayan warung angkringan, faktor-faktor yang mendorong keterlibatan mereka, serta peran pelanggan dan keluarga dalam melanggengkan praktik tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan perspektif teori habitus, modal, dan ranah Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik prostitusi terselubung di warung angkringan berlangsung melalui interaksi sederhana yang kemudian mengarah pada transaksi seksual tersembunyi. Faktor internal seperti desakan ekonomi, rendahnya pendidikan, keterampilan yang terbatas, serta gaya hidup konsumtif mendorong pelayan terlibat dalam prostitusi. Sementara faktor eksternal berupa lingkungan permisif, kebutuhan pelanggan, dan lemahnya kontrol sosial semakin memperkuat keberlangsungan praktik ini. Pelanggan dan keluarga berperan besar, baik sebagai pihak yang menciptakan permintaan maupun sebagai pihak yang mendukung atau membiarkan praktik tersebut demi keuntungan ekonomi. Temuan penelitian juga menegaskan bahwa keberlangsungan prostitusi terselubung dipengaruhi oleh modal sosial, ekonomi, budaya, dan simbolik yang dimiliki para aktor, serta habitus dan ranah sosial warung angkringan yang memungkinkan praktik ini bertahan. Dengan demikian, prostitusi terselubung di warung angkringan Jombang dapat dipahami sebagai praktik sosial yang berakar kuat dalam interaksi antara kebutuhan ekonomi, relasi sosial, dan budaya setempat. Kata
Kunci: Prostitusi terselubung, Warung Angkringan, Praktik Sosial
Covert prostitution is a complex social phenomenon because it takes place in unexpected spaces and disguises its main practice. One of them happened at the angkringan stall in Jombang Regency, a social space that should only function as a gathering place for the community. This phenomenon is not only triggered by economic factors, but also reinforced by the social environment, culture and weak supervision. This research is important to understand the dynamics of covert prostitution that is rarely raised in sociological research, especially in the context of warung angkringan. This research aims to analyze the form of covert prostitution practice carried out by angkringan stall waiters, the factors that encourage their involvement, as well as the role of customers and families in perpetuating the practice. The approach used is qualitative with in-depth interview, observation, and documentation techniques, and analyzed using the perspective of Pierre Bourdieu's habitus theory, capital, and realm. The research results show that the practice of covert prostitution in angkringan stalls takes place through simple interaction which then leads to hidden sexual transactions. Internal factors such as economic pressure, low education, limited skills, and a consumptive lifestyle encourage servants to engage in prostitution. While external factors in the form of a permissive environment, customer needs, and weak social control further strengthen the sustainability of this practice. Customers and families play a big role, both as parties who create demand and as parties who support or allow the practice for economic benefit. The research findings also confirm that the continuity of covert prostitution is influenced by the social, economic, cultural, and symbolic capital of the actors, as well as the habits and social realms of the angkringan stall that allow this practice to survive. Thus, covert prostitution in Jombang angkringan stalls can be understood as a social practice that is strongly rooted in the interaction between economic needs, social relations, and local culture.
Keywords: Covert Prostitution, Angkringan Stall, Social Practice