KARYA TARI “PANGIKET” SEBAGAI VISUALISASI MAKNA JANUR KUNING PADA TAKIR PLONTHANG MELALUI TIPE TARI DRAMATIK
THE DANCE WORK "PANGIKET" AS A VISUALIZATION OF THE MEANING OF YELLOW COCONUT LEAVES ON THE TAKIR PLONTHANG THROUGH DRAMATIC DANCE
Karya tari Pangiket merupakan sebuah karya tari yang memvisualkan makna janur kuning sebagai pengendalian diri manusia. Karya tari ini didasari oleh tradisi Ngetung Batih di Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek dimana tradisi ini merupakan ritual adat menyambut bulan Suro yang sarat makna spiritual, sosial, dan moral. Salah satu elemen penting dalam ritual ini adalah takir plonthang dengan janur kuning sebagai pengikatnya, yang dimaknai sebagai simbol pengendalian diri manusia. Pemaknaan tersebut menjadi inspirasi penciptaan karya tari Pangiket. Konsep koreografi berangkat dari urgensi nilai pengendalian diri yang kian terabaikan pada generasi muda di tengah maraknya perilaku negatif.
Proses penciptaan karya tari ini menggunakan metode konstruksi 1 Jacqueline Smith melalui tahapan rangsang awal, eksplorasi, improvisasi, evaluasi, seleksi, dan penghalusan. Bentuk penyajian menggabungkan gaya dramatik dengan mode representatif dan simbolis, menampilkan tujuh penari dengan ii properti janur kuning, takir plonthang, serta blarak sebagai simbol pengikat watak manusia. Dalam karya ini terdapat beberapa karya terdahulu yang relevan sebagai referensi dalam penerapan konsep, seperti karya tari in control oleh Dian Nova Saputra dan karya tari Sinongkelan oleh UKM tari Universitas Negeri Surabaya Iringan musik digital modern dipadukan dengan nuansa gamelan Jawa, sedangkan tata busana dan rias mengambil inspirasi dari estetika Jawa. Selain itu karya tari ini dipertunjukkan di dalam panggung prosenium dengan menggunakan beberapa tata cahaya seperti par 64, par LED, dan fresnel.
Hasil karya tari Pangiket diharapkan mampu menjadi tontonan sekaligus tuntunan, dengan pesan utama pentingnya pengendalian diri keseimbangan, bermasyarakat. dan untuk mewujudkan keharmonisan, kebahagiaan dalam kehidupan
Kata kunci : Pangiket, Janur Kuning, Pengendalian diri, Dramatik
The Pangiket dance work visualizes the meaning of yellow coconut leaves as human self-control. This dance work is based on the Ngetung Batih tradition in Dongko District, Trenggalek Regency, where this tradition is a traditional ritual welcoming the month of Suro, which is rich in spiritual, social, and moral meaning. One of the key elements of this ritual is the takir plonthang, tied with yellow coconut leaves, which is interpreted as a symbol of human self-control. This interpretation inspired the creation of the Pangiket dance. The choreographic concept stems from the urgency of the value of self-control, which is increasingly neglected among the younger generation amidst the rise of negative behavior.
The creation process for this dance piece utilizes Jacqueline Smith's construction method 1, which includes initial stimulation, exploration, improvisation, evaluation, selection, and refinement. The presentation combines dramatic style with representative and symbolic modes, featuring seven dancers using props made of yellow coconut leaves, takir plonthang, and blarak, symbolizing the binding of human character. This work incorporates several relevant previous works as references in implementing the concept, such as Dian Nova Saputra's iv "In Control" dance and the "Sinongkelan" dance by the Surabaya State University Dance Student Activity Unit. Modern digital music accompaniment is combined with Javanese gamelan nuances, while the costume and makeup are inspired by Javanese aesthetics. Furthermore, this dance piece is performed on a proscenium stage using various lighting systems, including 64-bar par, LED par, and Fresnel lights.
The Pangiket dance is expected to be both a spectacle and a lesson, with its main message being the importance of self-control to achieve harmony, balance, and happiness in social life.
Keywords: Pangiket, Yellow Coconut Leaf, Self-Control, Dramatic