PENGGUNAAN JEBAKAN LISTRIK TIKUS DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEAMANAN PUBLIK DI DESA SUMENGKO, KECAMATAN KALITIDU, KABUPATEN BOJONEGORO
THE USE OF ELECTRIC RAT TRAPS AND THEIR IMPLICATIONS FOR PUBLIC SAFETY IN SUMENGKO VILLAGE, KALITIDU DISTRICT, BOJONEGORO REGENCY
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan jebakan listrik tikus oleh para petani di Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, serta implikasinya terhadap keamanan publik. Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap meningkatnya serangan hama tikus, yang dalam beberapa musim tanam terakhir menyebabkan kerugian signifikan bagi petani. Dalam konteks tekanan ekonomi dan kebutuhan untuk menjaga stabilitas hasil panen, sebagian petani memilih menggunakan jebakan listrik yang dianggap lebih efisien dan murah dibandingkan metode pengendalian hama lainnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan sejumlah informan utama, terdiri dari petani pengguna jebakan listrik, perangkat desa, serta warga yang tinggal di sekitar area persawahan. Selain itu, observasi lapangan dilakukan untuk mengamati bentuk instalasi jebakan listrik, pola penggunaan, serta potensi risiko yang muncul. Dokumentasi berupa foto, catatan lapangan, dan arsip desa digunakan sebagai data pendukung. Analisis data dilakukan dengan pendekatan teori Strukturasi Anthony Giddens guna memahami bagaimana tindakan petani dan struktur sosial saling mereproduksi praktik penggunaan jebakan listrik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pemasangan jebakan listrik bukan hanya tindakan teknis, tetapi merupakan hasil dari relasi dinamis antara struktur (aturan tidak tertulis, akses teknologi, kondisi ekonomi, dan norma lokal) dan agensi petani. Para petani memaknai jebakan listrik sebagai strategi bertahan hidup untuk menekan kemungkinan gagal panen, sehingga praktik tersebut terus direproduksi meskipun mereka menyadari adanya risiko bagi masyarakat. Implikasi terhadap keamanan publik meliputi potensi sengatan listrik, bahaya bagi anak-anak dan pejalan kaki, gangguan aktivitas malam hari, serta tumbuhnya rasa cemas di kalangan warga. Di sisi lain, belum ada regulasi, sosialisasi, maupun pengawasan yang memadai dari pemerintah desa maupun instansi pertanian, sehingga praktik ini berkembang secara otonom tanpa standardisasi keamanan.
Temuan ini menegaskan perlunya intervensi struktural melalui penyuluhan pertanian, penyediaan alternatif teknologi pengendalian hama yang lebih aman, serta penyusunan peraturan lokal untuk mengatur pemasangan jebakan listrik. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perubahan praktik hanya dapat terjadi jika ada transformasi pada struktur yang menopang tindakan petani, sejalan dengan perspektif Strukturasi Giddens.
This study aims to analyze the use of electric rat traps by farmers in Sumengko Village, Kalitidu District, Bojonegoro Regency, and its implications for public safety. The phenomenon has emerged as a response to increasing rat infestations that, in recent planting seasons, have caused substantial losses for farmers. Under economic pressure and the need to secure harvest yields, many farmers have adopted electric traps, which are perceived as more efficient and affordable compared to other pest-control methods.
This research employs a qualitative approach with a case study strategy. Data were collected through in-depth interviews with key informants, including farmers who use electric traps, village officials, and residents living near the rice fields. Field observations were conducted to examine trap installation patterns, usage practices, and potential safety risks. Additional data were obtained from photographic documentation, field notes, and village archives. Data analysis was guided by Anthony Giddens’ Structuration Theory to understand how farmers’ actions and social structures interact to reproduce the practice of using electric traps.
The findings indicate that the use of electric rat traps is not merely a technical action but a product of the dynamic relationship between structure (informal rules, technological access, economic conditions, and local norms) and farmers’ agency. Farmers perceive electric traps as a survival strategy to reduce the likelihood of crop failure, resulting in the continued reproduction of this practice despite awareness of the associated risks. The implications for public safety include potential electric shock hazards, dangers for children and pedestrians, disruptions to nighttime mobility, and heightened anxiety among residents. Meanwhile, there is a lack of adequate regulation, outreach, and oversight from village authorities or agricultural agencies, allowing this practice to develop autonomously without safety standards.
These findings highlight the need for structural interventions through agricultural extension programs, the provision of safer pest-control technologies, and the formulation of local regulations governing the installation of electric traps. The study further demonstrates that meaningful change in farmers’ practices can only occur alongside structural transformation, in accordance with Giddens’ Structuration perspective.