VISUALIZATION OF WIRONINI'S WARRIOR COURAGE IN DRAMATIC DANCE FORM IN THE KRIDHAH SANG ABITHAH DANCE WORK
Keberanian adalah tindakan yang membutuhkan keteguhan hati dalam mengambil suatu tindakan atau keputusan. Keberanian di dalamnya membawa fenomena sosial sekaligus pengalaman empiris koreografer, yaitu tentang keberanian prajurit Wironini dalam membela Untung Suropati dalam mempertahankan tanah Pasuruan dengan hanya mengandalkan senjata rontal. Koreografer tertarik dengan fenomena keberanian dari tentara Wironini karena berkaitan dengan fenomena yang dialami perempuan masa kini. Wanita saat ini sangat berani dalam mengambil keputusan, risiko pekerjaan dan sebagainya. Fokus konten dalam karya tari Kridhah Sang Abithah merupakan wujud keberanian perempuan Pasuruan. Demi mempertahankan Untung Suropati dalam mempertahankan tanah Pasuruan dari sekutu. Mereka rela bangkit untuk berjuang menjadi tentara wanita yang biasa disebut Wironini. Fokus bentuk dalam karya ini adalah jenis tari dramatis, koreografer memilih jenis tari dramatis, yang merupakan penguatan dalam penggambaran suasana.
Dalam proses penciptaan karya tari Kridhah Sang Abithah ini koreografer melakukan pengkajian terlebih dahulu terhadap karya yang telah diciptakan oleh koreografer terdahulu yang tentunya telah relevan seperti Tari Nyi Pandanaran Prajurit Perempuan, dan Tari Legiun Estri. Tidak hanya itu, pengkajian teori juga menggunakan teori visualisasi, keberanian, dramatik, dan koreografi.
Karya tari Kridhah Sang Abithah menggunakan metode konstruksi yang telah dikenalkan oleh Jacqueline Smith digunakan sebagai langkah-langkah untuk membangun sebuah ide yang akhirnya menjadi konsep. Dalam mengkonstruksi karya tari dibutuhkan pemahaman tentang elemen dasar tari seperti tenaga, ruang, dan waktu serta tatanan tari yang baik melalui tahap rangsang awal, menentukan tipe tari, mode penyajian, eksplorasi, improvisasi, analisis dan evaluasi, serta penghalusan. Judul Kridhah Sang Abithah menjadi makna keberanian dari prajurit Wironini saat membela Untung Suropati dalam mempertahankan tanah Pasuruan dari sekutu. Teknik dan gaya tari Kridhah Sang Abithah ialah gaya Jawa Timuran yang dikembangkan dengan kelincahan kaki, kekuatan tangan dan kaki yang memiliki rasa yang sama yaitu keberanian.
Alur pada karya tari ini dibagi menjadi enam bagian yakni introduksi, adegan 1, adegan 2, adegan 3, adegan 4 dan ending. Koreografi dalam karya ini tentunya harus didukung dengan tata rias dan busana yang menggambarkan atau menyimbolkan karakter tarian tersebut. Sebagai pendukung karya tari, iringan musik menjadi hal yang penting. Dalam karya ini menggunakan iringan pentatonis yaitu gamelan dan diatonis yaitu sexophone.
Karya tari Kridhah Sang Abithah menawarkan bentuk sajian yang mengeksplorasi tubuh berdasarkan tipe tari dramatik. Penyampaian gerak dalam karya ini dipertimbangkan dari sisi konsep karya dan kemampuan para penari yang tentunya memiliki motivasi dan isi. Pada hal tersebut koreografer berharap kepada para penikmat untuk tidak melupakan sejarah dan selalu mengapresiasi perjuangan para pahlawan.
Courage is an action that requires determination in taking an action or decision. The courage in it brings social phenomena as well as choreographers' empirical experience, namely about the courage of Wironini soldiers in defending Untung Suropati in defending Pasuruan land by relying only on rontal weapons. The choreographer was interested in the phenomenon of courage from Wironini's soldiers because it was related to the phenomenon experienced by women today. Women today are very brave in making decisions, job risks and so on. The focus of the content in the dance work Kridhah Sang Abithah is a manifestation of the courage of Pasuruan women. In order to maintain Untung Suropati in defending Pasuruan land from allies. They are willing to rise to fight to become female soldiers commonly called Wironini. The focus of the form in this work is the dramatic dance type, the choreographer chooses the dramatic dance type, which is a reinforcement in the depiction of the atmosphere.
In the process of creating the dance work Kridhah Sang Abitha, the choreographer first studied the works that had been created by previous choreographers which of course had been relevant such as the Nyi Pandanaran Dance of Women Warriors, and the Estri Legion Dance. Not only that, theoretical studies also use visualization, bold, dramatic, and choreography theories.
The dance work Kridhah Sang Abithah uses the construction method that has been introduced by Jacqueline Smith used as steps to build an idea that eventually becomes a concept. In constructing dance works, an understanding of the basic elements of dance such as energy, space, and time as well as good dance order through the initial stimulation stage, determining the type of dance, mode of presentation, exploration, improvisation, analysis and evaluation, and refinement. The title Kridhah Sang Abithah became the meaning of the courage of Wironini soldiers when defending Untung Suropati in defending Pasuruan land from allies. The technique and style of the dance Kridhah Sang Abithah is an East Javanese style developed with the agility of the feet, the strength of the hands and feet that have the same sense of courage.
The plot of this dance work is divided into six parts, namely introduction, scene 1, scene 2, scene 3, scene 4 and ending. The choreography in this work must certainly be supported by makeup and clothing that depicts or symbolizes the character of the dance. As a supporter of dance works, musical accompaniment is important. In this work using pentatonic accompaniment, namely gamelan and diatonic, namely sexophone.
The dance work Kridhah Sang Abithah offers a form of presentation that explores the body based on dramatic dance types. The delivery of movement in this work is considered in terms of the concept of the work and the ability of the dancers who certainly have motivation and content. In this case, the choreographer hopes that the audience will not forget history and always appreciate the struggle of the heroes.