Narasi Pelestarian Ekologis Masyarakat Lokal dalam Sastra Indonesia: Perspektif Ekosemiotik Kultural
Narratives of Ecological Preservation by Local Communities in Indonesian Literature: A Cultural Ecosemiotic Perspective
Penelitian ini mengkaji narasi pelestarian lingkungan dalam sastra Indonesia melalui perspektif ekosemiotik-kultural dengan fokus pada relasi manusia dan alam, konsepsi lanskap ekologis, serta resiliensi praktik budaya masyarakat lokal dalam melestarikan lingkungan. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Sumber data berjumlah empat belas novel yang merepresentasikan tanda-tanda pelestarian ekologis dan budaya masyarakat lokal di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi, keterbacaan, dan pencatatan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan pengodean, kategorisasi, dan analisis tema. Teknik keabsahan data penelitian ini menggunakan tiga hal, yaitu diskusi terpumpun, triangulasi, dan pemeriksaan pakar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi ekologis dalam sastra Indonesia mengandung tiga pola utama. Pertama, relasi manusia dan alam terbagi menjadi tiga kategori: orientalis (dominasi manusia terhadap alam), paternalis (tanggung jawab manusia terhadap lingkungan), dan komunalis (harmoni manusia dengan alam). Kedua, konsepsi lanskap ekologis menyoroti makna tanah, laut, hutan, dan gunung sebagai bagian integral dari kehidupan masyarakat lokal, baik sebagai ruang ekologis maupun spiritual. Ketiga, resiliensi budaya dalam pelestarian lingkungan termanifestasi melalui kepercayaan magis, mitologi konservasi ekologi, serta metafora dalam narasi pelestarian alam.
Penelitian ini memperkaya kajian ekosemiotik dalam sastra dengan mengungkap tanda dan sistem makna budaya masyarakat lokal berfungsi sebagai mekanisme konservasi lingkungan. Implikasi teoretis dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekosemiotik-kultural dapat menjadi pendekatan multidisipliner yang menjembatani humaniora dan ekologi, sedangkan secara praktis, penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi bagi kebijakan lingkungan berbasis kearifan lokal serta penguatan pendidikan ekologi dalam studi sastra.
This study examines narratives of environmental conservation in Indonesian literature through an cultural ecosemiotic perspective, focusing on the relationship between humans and nature, the concept of ecological landscapes, and the resilience of local communities' cultural practices in conserving the environment. This research uses a qualitative method with an interpretative approach. The data sources consist of fourteen novels that represent signs of ecological and cultural preservation of local communities in Indonesia, from Aceh to Papua. The data collection techniques used in this study are observation, readability, and note-taking. The data analysis techniques used in this study are coding, categorisation, and thematic analysis. The data validity technique used in this study involved three aspects, namely focus group discussions, triangulation, and expert review.
The results of the study indicate that ecological narratives in Indonesian literature contain three main patterns. First, the relationship between humans and nature is divided into three categories: orientalist (human domination of nature), paternalistic (human responsibility for the environment), and communalist (harmony between humans and nature). Second, the concept of the ecological landscape highlights the meaning of land, sea, forests, and mountains as an integral part of local community life, both as ecological and spiritual spaces. Third, cultural resilience in environmental conservation is manifested through magical beliefs, ecological conservation mythology, and metaphors in narratives of nature conservation.
This study enriches the study of ecosemiotics in literature by revealing the signs and systems of meaning in local communities that function as mechanisms for environmental conservation. The theoretical implications of this research indicate that cultural ecosemiotics can be a multidisciplinary approach that bridges the humanities and ecology, while in practical terms, this research can be used as a reference for local wisdom-based environmental policies and the strengthening of ecological education in literary studies.
Keywords: Cultural ecosemiotics, Indonesian literature, environmental conservation, local community, ecological landscape.