Penelitian
ini bertujuan untuk menyelidiki hipotesis tentang pengaruh stereotip cerita
masa kecil, serta konstruksi budaya mereka sebagai siswa. Teks yang digunakan
sebagai subjek adalah Grimms Fairy Tale dan film animasinya oleh Disney.
Pendekatan respon pembaca diterapkan untuk menganalisis perspektif responden
tentang perbedaan antara dongeng Grimms dan penceritaan kembali dongeng
tersebut oleh Disney, serta stereotip seputar dongeng tersebut. Dongeng-dongeng
yang dikumpulkan dan diterbitkan oleh Grimm Bersaudara, Jacob dan Wilhelm
Grimm, telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam dunia penceritaan,
sedangkan Disney telah menjadi produser film animasi, bersama dengan ikon atau
mimpi tentang idealisasi kehidupan dan masyarakat. Sebagai produk budaya,
Disney Animated Movies (DAM) tidak hanya dikonsumsi oleh anak-anak tetapi juga
orang dewasa, termasuk di Indonesia. Studi ini berfokus pada stereotip yang
hidup lebih lama dalam ingatan pemirsa. Penelitian ini menggunakan
intertekstualitas untuk membandingkan kedua teks tersebut, dan teori respon
pembaca untuk menganalisis respon siswa. Hasil dari penelitian ini adalah
ingatan siswa tentang dongeng didominasi oleh stereotip yang diperkenalkan oleh
DAM di masa kecil mereka. Disney menciptakan stereotip dan karakter ikonik
dalam film animasi mereka yang mewakili karakter yang diidealkan. Hal ini
menegaskan bahwa memori budaya anak dibentuk dan dipengaruhi secara signifikan
oleh pengetahuan mereka tentang dunia, yang terdiri dari semua yang telah
mereka lihat, alami, dan pelajari dari orang-orang dan lingkungan di sekitar
mereka. Memori ini sangat dipengaruhi oleh literatur dan film yang mereka
konsumsi saat masih anak-anak.
Dari data
yang dikumpulkan dari wawancara dengan mahasiswa Islam, di mana mereka mengaku
mengenal Disney dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Ada yang bilang
Disney karena mereka tahu produknya dan bisa menjelaskan khasiat dari produk
tersebut. Disney dikenal oleh para siswa sebagai produser yang membuat film
untuk anak-anak, dan mereka merasa bahwa Disney tumbuh bersama mereka sejak
kecil. Sebagai agen yang memperkenalkan Disney dan produknya ke masa kecil
mereka, mereka adalah orang tua sekaligus guru.
Mereka merasa
ketika sudah dewasa seperti saat diwawancarai, mereka masih ingat dengan jelas
Disney dan hal-hal yang berkaitan dengan badan usaha ini. Meskipun tidak ada
responden yang menyebutkan bahwa Disney adalah perusahaan yang memproduksi
cerita atau film dengan tujuan mencari keuntungan, bagi mereka Disney tidak
termasuk sebagai badan usaha. Pikiran mereka dipenuhi dengan gagasan bahwa
Disney benar-benar menghasilkan kenangan. Kenangan ini diwakili oleh karakter
yang disebutkan oleh responden. Mereka akrab dengan karakter ikonik Mickey
Mouse dari Disney. Dan responden dengan jelas mengingat masa kecil mereka
ketika mengenal karakter Disney, melalui beberapa media seperti televisi,
merchandise, dongeng dan iklan.
Dari 164
responden, jawaban yang dominan terkait pemahaman mereka terhadap Disney adalah
bahwa Disney diasosiasikan dengan produk yang mereka ciptakan, baik berupa
animasi, kartun, maupun film dongeng. Sebanyak 99 siswa mengasosiasikan Disney
dengan produk-produk seperti cerita, film, animasi dan pertunjukan yang mereka
tonton sejak kecil. Sebagai penonton dewasa, responden menilai bahwa
produk-produk yang dihasilkan Disney berkualitas tinggi, bahkan jawaban serupa
dengan menyebutkan rating film-film Disney yang diproduksi juga mewakili hal
tersebut. Representasi ini merepresentasikan ingatan responden akan masa
lalunya saat masih anak-anak.
Kata Kunci: stereotip,
dongeng, disney, intertextual, respon pembaca