Strategi Kebudayaan Kesenian Jaranan di Tengah Modernisasi: Potret Jaranan Okta Putri Kencono Kota Surabaya
Cultural Strategy of Jaranan Arts in the Midst of Modernization: Portrait of Jaranan Okta Putri Kencono, Surabaya City
Jaranan sebagai warisan tradisional masyarakat Jawa Timur, Surabaya menghadapi tantangan besar akibat urbanisasi dan globalisasi. Paguyuban Jaranan Okta Putri Kencono meskipun baru, berhasil bertahan di tengah perubahan sosial dan persaingan dengan paguyuban seni lainnya. Penelitian ini mengkaji strategi budaya yang diterapkan oleh paguyuban ini untuk beradaptasi dengan modernisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian dilakukan di Kelurahan Lakarsantri, Kota Surabaya yang dipilih karena relevansinya dengan asal usul dan penampilan paguyuban. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Wawancara dilakukan dengan berbagai anggota paguyuban Okta Putri Kencono yang terdiri dari pendiri, bopo, pemain celeng, pemain alat musik, bopo, pemain Jaranan, dan kru paguyuban. Studi menunjukkan bahwa tiga tahap yang dihadapi paguyuban Jaranan Okta Putri Kencono adalah tahap mitos, tahap ontologis, dan tahap fungsionalis. Pada tahap mistis, Jaranan masih mempertahankan ritual spiritual seperti persembahan sebagai penghormatan kepada leluhur. Tahap ontologis ditandai dengan reinterpretasi nilai-nilai tradisional untuk menjawab tantangan masyarakat modern, termasuk adaptasi terhadap elemen pertunjukan tanpa meninggalkan identitas tradisional. Sementara tahap fungsionalis beradaptasi dengan modernisasi, Jaranan Okta Putri Kencono mengintegrasikan elemen modern, seperti teknologi audiovisual, tema cerita yang diperbarui, dan kolaborasi dengan seniman muda dan komunitas kreatif. Intinya, paguyuban Jaranan Okta Putri Kencono telah berhasil menavigasi tantangan modernitas sambil melestarikan warisan budayanya yang kaya. Dengan beradaptasi dengan perubahan zaman, paguyuban ini memastikan kesenian Jaranan agar tetap eksistensi untuk generasi mendatang.
Kata Kunci : strategi kebudayaan, modernisasi, jaranan, okta putri kencono
Jaranan, as the traditional heritage of the people of East Java, Surabaya faces great challenges due to urbanization and globalization. The Okta Putri Kencono Jaranan Association, although new, has managed to survive in the midst of social changes and competition with other art groups. This study examines the cultural strategies implemented by this association to adapt to modernization. This study uses a descriptive qualitative method with a phenomenological approach. The research was conducted in Lakarsantri Village, Surabaya City which was chosen because of its relevance to the origin and appearance of the association. The data collection technique uses observation and interviews. Interviews were conducted with various members of the Okta Putri Kencono group consisting of the founder, bopo, piggy bank players, musical instrument players, bopo, Jaranan players, and the crew of the group. The study shows that the three stages faced by the Jaranan Okta Putri Kencono group are the mythical stage, the ontological stage, and the functionalist stage. On a mystical level, Jaranan still retains spiritual rituals such as offerings as a tribute to ancestors. The ontological stage is characterized by the reinterpretation of traditional values to answer the challenges of modern society, including adaptation to performance elements without leaving traditional identities. While the functionalist stage adapts to modernization, Jaranan Okta Putri Kencono integrates modern elements, such as audiovisual technology, updated story themes, and collaboration with young artists and creative communities. In essence, the Jaranan Okta Putri Kencono group has successfully navigated the challenges of modernity while preserving its rich cultural heritage. By adapting to the changing times, this group ensures that the art of Jaranan continues to exist for future generations.
Keywords: cultural strategis, modernization, jaranan, okta putri kencono