Praktik Literasi Digital dalam Komunitas Penggemar K-pop Daring untuk Memediasi Persepsi Terhadap Motivasi Belajar Bahasa Inggris dan Kompetensi Antarbudaya
Motivasi belajar bahasa Inggris dan kompetensi antarbudaya merupakan dua elemen penting yang harus para siswa miliki untuk pembelajaran bahasa yang berkelanjutan dan berhasil. Meskipun dua elemen ini biasanya telah dikembangkan dalam lingkungan pendidikan formal, mereka masih seringkali kurang memiliki konteks yang menarik dan autentik. Belakangan ini, ruang digital informal, seperti komunitas-komunitas penggemar K-pop daring, telah menjadi wadah unik tempat para pemuda Indonesia terlibat dalam berbagai praktik literasi digital yang melibatkan teks multimoda bahasa Inggris. Motivasi mereka untuk belajar bahasa Inggris dan pengembangan kompetensi antarbudaya mereka berpotensi dimediasi oleh praktik-praktik ini. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi jenis-jenis praktik literasi digital yang mereka lakukan dan bagaimana praktik-praktik ini memediasi motivasi belajar bahasa Inggris dan pengembangan kompetensi antarbudaya mereka. Dengan menggunakan teori praktik literasi digital Barton dan Hamilton, Sistem Motivasi Diri L2 Dornyei, dan model kompetensi antarbudaya Byram, penelitian ini berfokus pada beberapa studi kasus dari 15 pemuda Indonesia. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan juga observasi daring untuk menemukan jejak digital. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa para peserta terlibat dalam berbagai praktik literasi digital, termasuk praktik menonton, mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara, yang semuanya berpusat pada beragam teks multimoda bahasa Inggris, seperti video terkait K-pop, teks terjemahan, fiksi penggemar, meme, dan banyak lagi. Lebih jauh lagi, praktik-praktik ini mampu memediasi motivasi pembelajaran bahasa Inggris dengan membantu peserta membayangkan diri mereka sebagai pengguna bahasa Inggris di masa depan, memenuhi harapan fandom, dan terlibat dalam pengalaman pembelajaran bahasa Inggris dalam fandom. Selain itu, praktik-praktik ini juga mampu memediasi pengembangan kompentensi antarbudaya dengan membantu peserta menumbuhkan rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap perbedaan budaya, memperoleh pengetahuan tentang praktik dan norma budaya, menafsirkan dan menghubungkan makna budaya, menemukan dan berinteraksi dalam konteks antarbudaya, dan mengembangkan kesadaran kritis terhadap perspektif budaya. Studi ini menyiratkan bahwa aktivitas digital berbasis minat dan informal menawarkan potensi untuk pembelajaran bahasa Inggris dan pengembangan kompetensi antarbudaya yang memberikan wawasan bagi para pendidik dan pembuat kebijakan yang ingin mengintegrasikan budaya populer dan praktik literasi digital sehari-hari ke dalam pendidikan bahasa Inggris.
Motivation for learning English and intercultural competence are important aspects that learners have to possess for long term and successful language learning. Although these aspects have traditionally been promoted in formal educational settings, they frequently lack engaging and authentic contexts. Recently, informal digital spaces, such as online K-pop fan communities, have become unique settings where young Indonesians engage in a variety of digital literacy practices that involve English multimodal texts. Their motivation to learn English and the development of their intercultural competence can potentially be mediated by these practices. Thus, this study aims to explore the kinds of digital literacy practices they engage in and how these practices mediate their English learning motivation and intercultural competence development. Using Barton and Hamilton’s theory of literacy practices, Dornyei’s L2 Motivational Self System, and Byram’s model of intercultural competence, this study focuses on multiple case studies of 15 Indonesian youths. Data were collected through in-depth interviews and also online observations to find digital traces. The findings reveal that participants engage in a variety of digital literacy practices, including watching, listening, reading, writing, and speaking practices, all of which are centered around diverse English multimodal texts, such as K-pop-related videos, subtitles, fanfictions, memes, and more. Furthermore, these practices were able to mediate English learning motivation by helping participants imagine their future English user selves, meet fandom expectations, and engage in English learning experiences in fandoms. Additionally, these practices were also able to mediate the development of intercultural competence by helping participants cultivate curiosity and openness toward cultural differences, acquire knowledge of cultural practices and norms, interpret and relate cultural meanings, discover and interact in intercultural contexts, and develop critical awareness of cultural perspectives. This study implies that interest-driven and informal digital activities offer potential for English language learning and intercultural competence development which provide insights for educators and policymakers looking to integrate popular culture and vernacular digital literacy practices into English language education.