PENDAHULUAN
Perisai Diri atau dikenal dengan nama Kelatnas Indonesia
Perisai Diri merupakan organisasi perguruan beladiri silat yang ada di Kota Surabaya
berdiri pada tahun 1955 oleh R.M.Soebandiman Dirdjotmodjo selaku pendekar guru
besar pencipta aliran baru Pencak silat di Indonesia yakni aliran silat Perisai
Diri dengan maksud tujuan mengebangkan dan menyebar luaskan ajaran silatnya di Surabaya.
Pada awal ke muncula (PD) Perisai Diri mendapat sambutan baik oleh masyarakat
serta menjadi ikon perguruan beladiri silat Surabaya yang ikut serta mewarnai
perkembangan beladiri Pencak silat di Indonesia.
Pencak silat merupakan beladiri tradisional asli Indonesia yang
mana sering dianggap kuno dan keting-galan zaman, dimana kehadirannya kerap
kali dijumpai diperdesaan tau diplosok daerah/kampung. Hadirnya Perisai Diri kala itu menampik anggapan stigma
di ma-syarkat bahwasannya Pencak silat adalah beladiri yang ketinggalan zaman
kalah bersaing dengan beladiri asing yang lebih modern seperti Karate dan Judo. Munculnya aliran silat Perisai Diri membawa
perubahan pada perkembangan beladiri Pencak silat pada era itu, sehingga dapat
diterima berbagai kalangan khususnya di Kota Surabaya.
Perguruan Kelatnas Indonesia Perisai Diri tidak lepas dari
sejarah pada masa awal perkembangan organi-sasi Pencak silat di Indonesia, yang
kelak menjadi cikal bakal dari organiasi yang menghimpun berbagai aliran Pencak
silat yang ada di indonesia yakni IPSI. Pak
Dirjo selaku pengajar pendiri Perisai Diri mendapat mandat bertugas di Kota Surabaya
sehubungan dengan kiat awalnya mengembangkan beladiri Pencak silat, Pak Dirjo menjadi
salah satu tokoh yang memiliki peran serta pengaruh pada awal perintisan
penyatuan organisasian Pencak silat di Indonesia hingga muncul berapa perguruan
aliran Pencak silat yang teroganisir dibawah naungan IPSI. Perisai Diri di IPSI
menjadi salah satu dari 10 perguruan historis yang memiliki peran aktif pada
berdirinya IPSI. Meski perkembangan silat kala itu juga mengalami berapa
hambatan pendirian perguruan Silat Perisai Diri memberi angin segar pada
kesadaran masyarakat untuk lebih mengenal dan mempelajari beladiri asli bangsa Indonesia
Pencak silat. Terutama para akademisi pelajar mahasiswa yang ada di Kota Surabaya
yang berlatih dan mendukung memperkenalkan silat Perisai Diri, dengan ikut
serta berkontribusi dalam perkembangan perguruan Kelatnas Indonesia Perisai
Diri sedari lokalitas Kota sampai menjadi perguruan silat yang dikenal luas
berskala nasional dengan Surabaya sebagai pusat keilmuan aliran (PD).
Perisai Diri pada alirannya merupakan beladiri kembangan
perpaduan Pencak silat Nusantara dengan beladiri asing negeri Tiongkok yakni Kungfu
Shaolin (Siauw Liem Sie), hal
ini tentu saja menjadi daya tarik nilai budaya dan karakter unik yang melekat
pada aliran silat Perisai Diri menjadi pembeda dari beladiri lainnya termasuk
di beladiri Pencak silat itu sendiri.
Pencak silat di Indonesia memiliki berbagai aliran seperti
Minangkabau, Cimande, Cikalong dan berbagai aliran lainya yang mana usur gerak silatnya
perguruan tersebut berbeda-beda. Aliran Pencak silat adalah gaya khas Pencak silat
yang diajarkan, dianut, dan dipraktekkan oleh suatu perguruan. Ada perguruan
yang mengajarkan satu aliran Pencak silat yang sama, ada juga yang mengajarkan
gabungan (kombinasi) dari berbagai aliran, baik domestik maupun campuran
domestic dengan asing.
Pencak silat memilik dua maknawi sebelum ada kesepakatan
adanya penyatuan persepsi antara penamaan aliran pencak dan silat
terdapat dua sifat pembeda karakter yakni pencak merupakan beladiri erat unsur
seni lembut dengan pola gerakan menyerupai tari-tarian. Berbeda halnya dengan silat
yang cenderung gerakannya keras, tegas dan deras mengacu pada beladiri
sesungguhnya bertarung untuk melindungi diri. Hal ini menjadi alasan tersendiri
mengapa Perisai Diri menamai aliran beladirinya dengan sebutan silat Perisai
Diri tidak menyematkan kata pencak sebagai identitasnya. Sebagai bentuk wujud
dari nilai sifat karakter aliran menjadi suatu beladiri yang lebih spesifik
yakni silat.
Jika merujuk pada definisi Pencak silat yang ada di PB IPSI
adalah sebagai berikut : “Pencak silat adalah gerak bela-serang yang tertatur
menurut sistem, waktu tempat, dan iklim dengan selalu menjaga kehormatan
masing-masing secara ksatria, tidak mau melukai pera-saan. Jadi Pencak silat lebih
merujuk pada segi lahiriah. Silat adalah gerak bela-serang yang erat
hubungannya dengan rohani, sehingga menghidup suburkan naluri, menggerakan hati
nurani manusia, langsung berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa”.
Perisai Diri lambat laun bertranfomasi menjadi sebuah organiasasi
di tahun 1959 setelah adanya probem-latika internal di keanggotan kursus
Perisai Diri yang justru menjadi awal mula terbentuknya ke organiasian era
1959, karena pada masa itu Perisai Diri masih belum memiliki aturan atau
pedoman pakem jenis aliran silatnya. Tahun 50an keilmuan dan teknik masih tahap
pengembangan diramu oleh sang pendiri Pak Dirjo dikumpulakan belum secara utuh
tercipta. Pengembangan teknik pola geraknya masih dirangkai sedemikian rupa
agar menjadi beladiri silat yang orisinil, berbeda dari perguruan beladiri yang
ada sebelumnya karena Perisai Diri dalam aplikasi beladirinya merupakan
gabungan dari ramuan kumpulan aliran beladiri Nusantara dan beladiri asing dari
negeri Tiongkok yakni Kungfu. Adanya
berapa pihak praktisi beladiri pada kala itu tidak setuju menolak serta
mencemoh aliran Perisai Diri yang terbilang baru. Apakah masih termasuk beladiri
silat ataukah Kungfu, berapa pihak kawatir jika aliran Perisai Diri sebagai
aliran dalam kaidah beladirinya cenderung menampilkan gerak beladiri Kungfu
dari pada idetintas silatnya.
Berawal dari lembaga kursus
sampai menjadi perguruan Kelatnas Indonesia Perisai Diri merupakan hasil usaha
dari kaum-kaum terpelajar murid anggota Persai Diri yang ada di Kota Surabaya
dari tahun 1959 sampai tahun 1982, Perisai Diri kian tumbuh berkembang menujukan
eksistensinya. Berkat usaha anggota silat yang ada di kursus Perisai diri
berapa murid Pak Dirjo mengusulkan untuk dibuatkannya ke organiasian menyi-kapi
permasalah yang ada di Perisai Diri.
Perkembangan perguruan mengalami hambatan dan masalah yang
begitu kompleks, adanya konflik internal
anggota dengan guru besarnya sendiri yakni Pak Dirjo. Peristiwa tersebut menjadi
tinta hitam kisah sejarah Perisai Diri dimana konflik 1959 berbutut pada
keluarnya anggota kursus silat Perisai Diri, mereka adalah tokoh murid generasi
pertama, yang mana beberapa pihak banyak yang tidak mengetahui para adanya
kader anggota pertama di Perisai Diri ketika masih berupa kursus silat, mereka
merupakan generasi kader pertama di Perisai Diri murid Pak Dirjo dari tahun
1955. Kader pertama tersebut dibina secara kursus untuk mempersiapkan bibit
pelatih dimasa mendatang yang kelak akan mendapat titel kehormatan pendekar
silat dari guru besar, tetapi konflik internal tahun 1959 berakibat keluarnya
para kader pertama sebagai calon pendekar.
Butuh waktu Perisai Diri untuk dapat bangkit menata kembali sistem
keanggotannya pada era 1959 dari adanya konflik internal ini yang mewarnai
pekembangan perguruan silat Perisai Diri yang mana secara tidak lang-sung berdampak
pada regenerasi penerus Perisai Diri atas peristiwa tersebut Pak Dirjo enggan
meluluskan anggota muridnya menjadi pendekar. Adanya konflik intenal antara
murid dan guru besarnya sendiri berdampak pada keluarrnya berapa anggota murid
binaanya, sehingga selama betahun-tahuh sedari 1959-1982 perguruan Perisai Diri
bertahan dengan hanya memiliki satu pendekar utama aja yakni Pak Dirjo sendiri
sebagai pendiri dan pencipta aliran silat Perisai Diri. Pak Dirjo selaku pendiri
Perisai Diri mengalami krisis kepercayan terhadap para anggota murid silat yang
dilatih sehingga tidak meluluskan dan mewariskan keilmuanya secara utuh selama
bertahun-tahun, dari peristiwa konflik itulah para murid anggota selanjutnya berinisiaif
mempekuat kondisi perguruan dengan memperbaiki sistem yang ada menjadi sebuah
organisasi dengan dibuatnya AD/ART 1959 dan berajut di tahun 1970 Perisai Diri
mengukuhkan nama baru menjadi “Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri” diikuti
beberapa perubahan yang ada pada artibut silatnya sedari seragam yang awalnya
berwarna hitam beralih ke seragam silat warna putih.
Perkembangan ini juga menimbulkan polemik selain menjadi ciri
khas tersendiri di perguruan silat Perisai Diri karena pada masa itu perguruan
silat pada umumnya identikan dengan seragam silat berwarna hitam namun
perguruan silat Perisai Diri justru merubah seragamnya menjadi warna putih. Sebagai
bentuk pembeda dari aliran Pencak silat lainya, selain itu juga adanya alasan tersendiri
serhubungan dengan stabiltas keaman negara di era 60an yanki memanasnya peristiwa
30s PKI yang menjadi sumber kekawatiran para penggiat beladiri Pencak silat di
Jawa timur.
Karena pada masa orde baru stabilitas keamaan belum cukup baik Adanya prasangka serta tudingan terhadap berapa perguruan
beladiri Pencak silat kala itu yang identik dengan warna seragam hitam yang disinyalir
dicurigai berafiliansi dengan gerakan bawah tanah organisasi terlarang.
Lantas sehubungan dengan itu perguruan Perisai Diri melakukan
beberapa perubahan atas saran masukan para anggota maka disepakati warna
seragam Silat Perisai Diri menjadi warna putih, agar perguruan silat Perisai diri tidak terimbas
atas stuasi politik pada tahun 60an. Hal ini berkat kepedulian anggota pergurun
Perisai Diri, agar Perisai Diri tidak terimbas tudingan yang menyasar kepada para pesilat. Kemudian berlajut pada
tahun 1982 perguruan Perisai Diri melatik beberapa pendekar untuk pertama
kalinya berjumlah yang 23 orang dengan gelar “Pendekar Historis Perisai Diri” sebagai
bentuk apresiasi atas perananya dalam perkembangan Perisai Diri sedari sebuah kursus
silat tahun 1959 sampai menjadi sebuah Perguruan yang dikenal luas di Kota Surabaya.
Berdasarkan infomasi data sumber sejarah yang ada
peneliti tertarik menulis mengenai perkembangan Perguruan Kelatnas Indonesia Perisai Diri : Apa
latar yang belakang berdirinya organisasi perguruan Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri di
Surabaya tahun 1959, bagaimana perkembangan organisasi perguruan Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri
pada tahun 1959-1982, dan apa saja peranan Pendekar Historis Perisai Diri dalam
perkembangan perguruan Perisai Diri di Surabaya 1982.
METODE
Penelitian ini pernulis mengunakan metode
sejarah terdiri dari empat metode
ilmiah sebagai sarana langkah dan prosedur untuk menyusun peristiwa sejarah perkembangan
perguruan Keluarga Silat Nasional
Indonesia Perisai Diri di Surabaya. Secara umum metode tersebut terdiri dari
empat tahapan ilmiah Heuristik, Kritik, Interpertasi
dan Historiografi. Ke empat metode sejarah tersebut diaplikasikan pada penelitian Sejarah untuk
menghasilkan tulisan sejarah yang baik serta ilmiah. Metode sejarah yang dilakukan penulis yakni :
1. Heuristik
Metode pertama yaitu Heuristik
sebagai langkah awal serajawan mengumpulkan berbagai sumber kajian
penelitiannya dengan mencari dan memilah sumber data yang ada dipenelitian perkembangan
perguruan Keluarga
Silat Nasional Indonesia Perisai Diri di Surabaya tahun 1959-1982. Penulis dalam
penelitianya menitik beratkan pada sumber primer yakni sumber utama pelaku
saksi sejarah yang mana sumber dari penulisan ini, didapatkan melalui wawancara
langsung narasumber tokoh saksi pelaku sejarah Perisai Diri untuk menghasilkan tulisan
tepat dengan tema penulisan.
Penulis
menggali dan mengambil data Sumber primer dengan mendatangi padepokan Perisai
Diri Kota Surabaya, menyesuaikan dengan cakupan wilayah kajian. Meliputi
lokalitas Kota Surabaya sebagai pusat pendirian perguruan Kelatnas Perisai Diri.
Berlokasi di alamat di Jl. Tenggilis Lama, padepokan tesebut menjadi kantor dan
unit usaha milik Bapak Nanang salah satu Pendekar Historis Perisai diri,
kemudian unit usaha tersebut di alih fungsikan oleh Pak Nanang menjadi
padepokan Perisai Diri pusat Surabaya sejak tahun 80an. Setelah itu penulis
menemui salah satu Narasumber yakni Bapak Hari yang juga, merupakan anggota
dari Pendekar Historis Perisai Diri. Penulis dalam penelitiannya berfokus pada
sumber primer merujuk pada tokoh-tokoh Pendekar Historis Perisai Diri sebagai
narasumber yang mana para anggota Pendekar Historis 1982 saat
penelitian ini ditulis yang masih hidup berjumlah 4 orang dari 23 orang karena narasumber
sudah berusia lanjut dan sepuh. Para Pendekar Historis
ini dilantik serentak di tahun 1982. sebelum guru besar Perisai Diri Pak Dirjo
tutup usia tahun 1983, Pendekar Historis Perisai Diri ini menjadi kunci saksi
perjalan sejarah PD pelaku dalam pekembangan perguruan Perisai Diri di
Surabaya.
Peneliti melakukan wawancara dengan Pak Hari Soejanto untuk mendapatkan sumber utama dalam kajian sejarah Perisai Diri,
kemudian atas infomasi Pak Hari Soejanto selaku
anggota Pendekar Historis PD beliau menyarankan untuk melakukan wawancara lebih
lanjut dengan seniornya yang juga merupakan Pendekar Historis Perisai Diri
yakni Bapak Noerhasdijanto beliaulah yang mengetahui lebih lengkap sejarah
Perisai Diri, serta menjadi pelaku sejarah dalam Perkembangan Perisai Diri ditahun
dari tahun 1959-1982.
2. Kritik Sumber
Tahapan selanjutnya peneliti melakukan
kritik sumber setelah mendapatkan data wawancara peneliti menguji kebenara
informasi keterangan dengan memilah dari kritik intern dan ekstern. Pada kritik sumber intern penulis menelisik keterangan
narasumber dengan buku-buku apakah mendapat sumber primer atas peristiwa tahun
1959 mempengaruhi perkembangan di perguruan Perisai Diri, yang diutarakan
langsung pelaku dan saksi sejarah Pendekar Historis Perisai Diri, yakni Bapak Noerhasdijanto
beliau memberikan keterangan penjelasan sejarah Perisai Diri dan menujukan
arsip berupa foto dokumentasi murid Perisai Diri di tahun 1959, berwarna hitam
putih dalam album pribadi Pak Noerhasdijanto.
Narasumber
menjelaskan bahwasanya foto ter-sebut merupakan murid Pak Dirjo kader pertama
di Perisai Diri saat masih berupa lembaga kursus silat dengan seragam silat
yang masih berwaran hitam Sebelum berganti seragam silat menjadi putih pada
tahun 1970. Peneliti melanjutkan uji sumber kritik ekstern yakni membandingkan beberapa keterangan tokoh Perisai Diri, dari keterangan kedua
narasumber Pak Hari dan Pak Noerhasdijanto selaku sesama anggota Pendekar Historis Perisai Diri tahun 1982. Kedua
narasumber memberikan perbedaan padangan tepatnya, ada sepengal cerita sejarah
yang tidak secara jelas diceritakan karena terlalu sensitif, namun setelah ditelaah kedua infomasi kedua
narasumber saling melengkapi dan memenuhi sarat penulisan.
Peneliti lalu membandingkan keterangan hasil wawancara tersebut dengan Surat
kabar Tempo terbitan tahun 1983 berjudul“Pulangnya
Sang Pendekar” dalam Surat kabar tersebut menjelaskan sejarah Perisai Diri, setelah
meninggalnya guru besar Pak Dijro dan yang menjadi narasumber pada surat kabar
tersebut adalah
Pak Noerhasdijanto, dilanjutkan dengan tambahan
wawancara ke salah satu perlatih Perisai Diri Bapak Choirul Alam yang mana pada
era 70an ia baru bergabung menjadi murid Silat Perisai Diri, sempat bertemu
dengan Pak Dirjo dan di latih para muridnya. Bagaimana peran Pendekar Historis
Perisai Diri apakah keterangan yang ada sesuai dengan fakta sejarah.
3. Intepretasi
Langkah selajutnya penulisan melakukan
Inte-pretasi setelah melakukan kritik sumber baik ekstern dan
intern. Penulis memverifikasi dan mengintepertasikan temuan sumber
yang ada sedari wawancara dan arsib foto yang dimiliki Bapak Noerhasdijanto tersebut
dengan menghubungkan serta menafsirkannya peristiwa yang berlasung kala itu
apakah mempengarui perkembangan Perguruan Perisai Diri Surabaya pada tahun 1959-1982 .
4. Historiografi
Tahap akhir
dalam penelitan ini Historiografi pada tahap ini penulis akan melakukan pernyususnan
karya sejarah secara kronologis tentang, Perkembangan
Perguruan Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Kota Surabaya Tahun 1959-1982.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Latar
Belakang Berdiri Perisai Diri di Surabaya
1. Biografi Pendiri Perguruan
Perisai Diri
Keluarga Silat Nasional Indonesia
Perisai Diri atau (PD) Perisai diri didirikan di kota Surabaya 2 Juli 1955 atas
peranan RM.Soebandiman Dirdjotmodjo kenal dengan nama Pak Dijro selaku tokoh
pendekar pencipta aliran silat Perisai Diri. Mengawali perjalanan karirnya, Pak
Dirjo memperoleh keilmuan silatnya dari usia 9 tahun saat masih berada di
lingkungan Karton Paku Alaman Yogyakarta, yang mana Pak Dirjo merupakan kaum
nigrat, putra pertama dari R.M. Pakoe Soedirdjo buyut dari Paku Alam II. Pada
usia dini Pak Dirjo memilik bakat lebih dalam bersilat sehingga dipercaya untuk
melatih silat teman sebayanya dilingkungan Kraton Paku Alaman.
RM.Soebandiman Dirdjotmodjo lahir pada
tahun 1913 di Kota Yogyakarta, setelah lulus dari HIK (Hollands Inlandsche
Kweekshcool) sekolah pendidikan guru setingkat SMP tahun 1930 sepanjang
karirnya didunia persilatan beliau mempelajari Pencak silat dari berbagai guru
di pulau Jawa dengan merantau mening-galkan lingkungan karaton Paku Alaman secara
mandiri berkelana untuk memperdalam keilmuanya ke berbagai daerah. Tujuan
pertamanya kala itu ke daerah Jombang, Jawa timur ia tempuh dengan berjalan
kaki sejauh 600km dari Jogja menemui
K.H Hasan Basri untuk belajar silat darinya. Selain belajar silat Pak Dirjo juga
belajar pengetahuan agama di Pondok Pesantren Tebuireng dan untuk memenui
kebutuhan sehari-hari Pak Dirjo bekerja di pabrik gula Peterongan. setelah memilik
bekal yang ia rasa cukup, Pak Dirjo melanjutkan perjalaannya dari Jawa timur kembali
ke Jawa tengah yakni Kota Surakarta Pak Dirjo berguru pada Sayid Sahap ditambah
mempelajari ilmu kanuragan dari sang kakek Ki Jokosurasmo. Setelah menimba
beberapa ilmu Pak Dirjo masih belum merasa puas maka dilanjutkan perjalanan ke
Kota Semarang disini beliau belajar silat dengan Bapak Sugito dari aliran Setia
Saudara serta belajar ilmu kanuragan di Pondok
Randuk Gunting Semarang.
RM.Soebandiman Dirdjotmodjo dengan rasa ke-ingian
tahuannya pada ilmu beladiri dari semua keilmuan yang telah ia pelajari dari
para guru silat Pak Dirjo masih belum merasa puas dan melanjutkan pencarian
keilmuan silatnya ke kota Cirebon dengan singgah terlebih dahulu di daerah
Kuningan disini beliau menimba kembali ilmu kanuragan selain itu Pak Dirjo mempelajari
aliran silat Minangkabau dan silat Aceh.
Setelah mendapat keilmuan silat yang
mumpuni Pak Dirjo membuka perguruan silat pertamannya yang bernama Eka Kalbu
berati satu hati. Pak
Dirjo melatih murid anggotanya dan menetap di Parakan Bayumas, di tengah
kesibukannya melatih perguruan Eka kalbu yang ia dirikan Pak Dirjo bertemu
dengan Yap Kie San seorang pendekar Tionghoa
beraliran Kungfu Shaolin (Siauw Liem Sie).
Dalam pertemuanya Pak Dirjo tertarik dengan beladiri Kungfu karena berbeda
dengan silat yang selama ini ia perlajari, dan dari pertemuan itulah Pak Dirjo
berkeinginan berguru pada Yap Kie San namun dirinya ditolak, penolakan ini
terhalang aturan kebudayan karena beladiri Kungfu hanya boleh dipelajari khusus
teruntuk etnis Tionghoa.
Penolak
tersebut tidak mengurungkan niat Pak Dirjo untuk berguru pada Yap Kie San Pak dirjo
setiap hari menemui sang suhu menunggu ditempat latihanya karena kegigihan
serta keingin tahuannya belajar beladiri Kungfu, Yap Kie San mengijinkanlah Pak
Dijro menimba ilmu namun beliau tidak secara langsung diterima melainkan
dipekerjakan membatu kegiatan perguruan sedari memberiskan tempat latihan dan
menyiapkan peralatan.Hal
ini ia dilakukan sebagai bentuk pengapdiannya pada sang guru sehingga hati suhu
Yap Kie San tergerak merasa bahwa ada orang pribumi sungguh ingin belajar
berlatih beladiri Kungfu. Pak Dirjo kemudian diijinkan bergabung namun dengan
sarat melakukan pertandingan persahabatan dengan salah satu muridnya.
Dari
pertarungan tersebut Yap Kie San menilai bahwa Pak Dirjo memilki bakat dan
layak bergabung menimba ilmu diperguruannya yang mana kala itu tidaklah
sebarang orang bisa mempelajari ilmu beladiri Kungfu, terutama dari kaum pribumi
di latar belakangi asal usul Pak Dirjo yang merupakah salah satu bang-sawan
Paku Alaman, Yap Kie San mempertimbangakan merima beliau menjadi murid.
Pak
Dirjo menimba ilmu selama 14 tahun setelah dirasa cukup dan layak Yap Kie San melulusan
Pak Dirjo dan memberikannya sebuah pedang sebangai bentuk ikatan batin antara
guru dan murid. Setelah menimba ilmu
beladirinya Pak Dijro diminta kembali ke Kota kelahiranya Yogyakarta oleh
pamannya sendiri yang merupakan tokoh nasional Bapak pendidikan Indonesia Ki Kihajar
Dewantara untuk melatih beladiri Pencak silat di lingkungan pendidikan Taman
Siswa. Pada 1947 Pak Dirjo diangkat menjadi Pegawai Negeri Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Seksi Pencak Silat, yang dikepalai oleh Mochammad Djoemali.
Tahun 1954 Pak Dirjo diperbantukan pindah tugas ke Kota Surabaya disinilah Perisai Diri berdiri tahun 1955.
2. Berdirinya
Perisai Diri Di Kota Surabaya
Perisai
diri berdiri bermula dari kegiatan lembaga kursus silat untuk umum yang dibuat
oleh Pak Dirjo setelah dipindah tugaskan dari Jogja ke Surabaya. Beliau
bertugas di kanton Dinas kebudayan Jawat timur, Jalan Wijaya kusuma No.53 disanalah
kursus silat Perisai Diri didirikan
menjadi cikal bakal perguruan silat di Kota Surabaya. Kala itu kursus silat
tersebut belum menjadi perguruan di karena sebelum dipindah tugas Pak Dirjo
telah memilki perguruannya sendiri bernama Eka Kalbu di Jogja namun selepas
kepindahan Pak Dirjo ke Surabaya perguruannya yang dahulunya ia dirikan tidak
berkembang, lalu sisa dari para muridtnya yang ada di Eka Kalbu ikut melebur
dengan didirikanya Perisai Diri.
Kursus
silat Perisai Diri kala itu menjadi sarana Pak Dirjo mengembangkan beladiri
silat dibantu oleh Bapak Imam Ramlean dari aliran (SH) Setia hati, karena
secara kelembagaan kursus Perisai Diri awal kemuculanya belum menjadi beladiri
secara khusus yang mana teknik silat beladirinya belumnya tercipta secara utuh
maka dari itu lembaga kursus silat Perisai Diri juga diperbantukan berapa
persilat lain, sesuai dengan tugas perannya Pak Dirjo dalam IPSI bersama berapa
pesilat lain membatu mengembangkan silat di Surabaya. Kursus silat Perisai Diri
dalam karakter aliran silatnya belum pakem sedari murid dan pelatih masih
merupakan anggota perguruan lain yang berminat mengikuti kursus di lembaga silat
yang dirikan Dinas Kebudayaan Jatim. Atas kerja sama rekan dan para murid
kursusnya, Pak Dirjo menciptakan aliran silatnya sendiri dengan meramu
mengumpulkan ilmu yang ia kuasai terciptalah teknik tau jurus yang menjadi ciri
khas karakter silat Perisai Diri sebagai aliran Pencak silat baru yang
orisinil, berbeda dari perguruan lainya dimana teknik geraknya diciptakan
sedemikian rupa menjadi gerak yang efektif sesuai dengan anatomi tubuh.
Perisai Diri dalam perkembanganya aliran
perguruan dipengaruhi oleh gerak beladiri Kungfu Shaolin yang dipelajari dari sang Suhu Yap Kie San. Perisai Diri mulai
melebarkan unit latihannya dan menghimpun anggota baru di Muesum Empun tantular
Surabaya menjadi lokasi pertama pengembangan perguruan silat Perisai Diri.
Berlajut di Universitas Airlanga Surabaya tahun 1958 yang mana di adagakannya
kegiatan untuk mahasiswa setaraf (UKM) Unit Kegiatan Mahasiswa, berlatih dibalai
pertemuan Airlangga pada latihan tersebut dilatih oleh orang Tionghoa, Han Zhong
Lin murid Pak Dirjo sebagai pelatih kader pertama di Perisai Diri, kemudian
dari para anggota mahasiswa yang dilatih mereka ikut serta dalam pengembangaan
perguruan dan memperkasai berdirinya organiasi perguruan dengan dibuatnya AD/ART.
Hal ini akibat adanya konflik pada tahun 1959 di kursus Perisai Diri dimana
pelatih yang melatih yakni kader pertama Pak Dirjo meninggalkan Perisai diri.
Setelah kehilangan Pelatih para mahasiswa
tersebut diberi pelatihan tersendiri untuk menggantikan kader pertama sebagai
bentuk kontribusi pada para mahasiwa dianggkat mereka menjadi pelatih kemudian
tahun 1960 ditetapkan AD/ART itulis oleh 4 orang murid Perisai Diri yaitu:
Noerhasdijanto, Suparjono, Bambang Mujiono dan Totok Sumantoro.
B.
Perkembangan
Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri Surabaya 1959-1982
1. Konflik Internal Perisai
Diri Surabaya 1959
Internal Perisai Diri secara
pengelolaan perguruan tak lepas dari sebuah permasalah sedari perbedaan pendapat
serta masalah tersendiri yang mempengaruhi suatu perkumpulan di kursus silat Perisai
Diri sebelum menjadi sebuah perguruan kala itu masih sebagai wadah untuk menghimpung siapa saja yang berminat
belatih silat Perisai Diri. Kendala didalam interaksi sesama anggota terutama
kader pertama kursus silat Perisai Diri saling bersebrangan dari sikap tingkah
laku setiap ang-gotanya berbeda-beda. Tepatnya tahun 1959 menjadi titik balik
perubahan yang berarti sedari permasalahan yang menimpa kursus silat Perisai
Diri, menjadi polemik dalam perkembangan kursus silat yang mana anggotanya kurang
disiplin dalam berlatih, sikap budi pekerti serta hubungan dengan pelatih kurang harmonis, hal ini menjadi sumber
perseteruan antara para murid dengan sang pendiri.
Terdapat
10 anggota kursus Perisai Diri yang dibina dari tahun 1954-1959 yakni kader
pertama Perisai Diri dipilih Pak Dirjo secara tradisinoal dengan ditunjuk siapa
saja yang diberi pelajaran ilmu lebih dengan hak-hak istimewa yakni pemberian
tingkat dan materi tersendiri, para kade pertama tersebut memilki bakat dan
potensi yang mumpunin meskipun begitu sang pendiri Pak Dirjo menilai bahwa para
kadernya belum siap untuk menerima keilmuannya. Hal ini yang menjadi muasabab murid
anggota berselisih bersebrangan dengan pendiri guru besar Perisai Diri. Sikap yang
belum memenuhi sarat menjadikan Pak Dirjo sangat selektif mengkader murid
anggotanya dimana lembaga silat Perisai Diri sebagai kursus silat alirannya
belum cukup kuat dalam segi karakter silat masih tahap pengembangan. Para murid
anggotanya merasa kurang mendapat materi sehingga para kader pertama Perisai Diri
tersebut kurang menghargai pelatihnya sendiri yakni Pak Dirjo. Sikap yang
dirasa belum cukup memenuhi sarat budi perketi inilah membuat Pak Dirjo enggan
memberikan materi sehingga para murid kader pertama Perisai Diri mela-kukan
latihan tersendiri bahkan berlatih dengan pergu-ruan lain disamping berlatih silat
Perisai Diri.
Faktor utamanya adalah belum adanya aturan
atau visi kuat termasuk perjanjian terhadap kesetian belatih dimana lembaga kursus
silat hanya berlatih teknik gerak yang diberikan sesuai keinginan pendiri Pak
Dirjo. Murid kader pertama merasa kurang mendapat materi sehingga belatih
beladiri lain, bahkan aliran Pencak Silat lainya. Karena itu Pak Dirjo selaku guru
besarnya merasa men-dapat perlakuan kurang hormat dan tidak di hargai meskipun
begitu Pak Dirjo membiarkan para kader pertama muridnya tersebut sebagai bentuk
penilaian apakah muridnya pantas belatih dan menerima materi di kursus silat
Perisai Diri. Dari berapa murid tersebut hanya satu orang yang tidak mengikuti
jejak anggota kader pertama yakni Bapak Yahya Bukari beliaulah yang memberikan
informasi kepada sang guru Pak Dirjo terhadap sikap rekan-rekanya yang berlatih
diperguruan lain, lantas setelah mengetahui hal tersebut menjadikan Pak Dirjo enggan
melatih menemui para kadernya merasa kecewa atas sikap para kader muridnya yang
mana sejatinya para kader tersebut dipersiapkan kelak menjadi pendekar. Para anggota lainya mengetaui
permasalah yang dihadapi kader pertama dan memahami bagaimana kondisi Perisai
Diri.
Setelah
keluarnya para pelatih kader pertama sehubungan dengan itu, para anggota yang
ada terutama mahasiswa yang pernah dilatih berupaya memperta-hankan kursus
silat Perisai Diri maka dari itu untuk pertama kalinya dibuatkanya AD/ART tahun
1959 secara resmi kursus Silat Perisai Diri menjadi sebuah perguruan yang lebih
terorganisir dengan adanya AD/ART. Perguruan Perisai Diri membuat janji sebagai
visi dan misi identitas, menyikapi permasalah internal yang ada tahun 1959 setelah
adanya AD/ART dan susunan ke organiasian di perguruan Perisai Diri tidak
disebut lagi sebagai kursus, namun resmi dikenal menjadi sebuah perguruan yang
utuh siapa saja anggotanya bagaimana cara berlatihnya persyaratan aturan serta
kurikulum, tingkatan sabuk yang mana dahulu saat beridirnya kursus Perisai Diri
hanya berupa kegitaan kursus privat tanpa adanya kurikulum bahan ajar dan
tingkatan. Hal ini yang menjadi latar belakang berdirinya perguruan sebab akibat
murid kader kala itu berkonflik dengan pendiri Pak Dirjo, merasa cemburu atas
ketimpangan bahan meteri silat yang diajakan hingga mencari bahan ajar diluar
latihan Perisai Diri.
Adanya
AD /ART di Perisai Diri diharapkan Para anggota perguruan memiliki batasan-batasan
dalam ber-sikap serta bertingkah laku dibuatnya aturan agar anggota lebih
disiplin dalam berlatih, tergugah untuk tanggung jawab memiliki sebuah pergururan
yang harus dijaga kehormatanya. Janji yang di buat diperuntukan sebagai bentuk
pengikat dan komitmen para anggota dalam berperilaku di perguruan silat Perisai
Diri dibuatkan janji yang wajib diucapkan oleh setiap anggota, adapun janji anggota Perisai diri yaitu :
1. Berketuhanan
Yang Maha Esa
2. Setia
dan taat kepada Negara
3. Mendahulukan
kepentingan Negara
4. Patuh
kepada perguruan
5. Memupuk
rasa kasih sayang.
2. Perkembangan Perguruan
Silat Perisai diri 1959
Peristiwa
tahun 1959 menjadi jejak sejarah di lembaga kursus silat Perisai Diri yang
memberikan dampak pada resminya Perisai diri menjadi perguruan silat dengan ada
AD/ART menyikapi permasalah yang terjadi diperkembangan Perisai Diri. Keluarnya
anggota kader pertama menjadi peristiwa bersejarah yang ikut serta mempengaruhi
perguruan Perisai Diri. Para kader
pertama Pak Dirjo merupakan tokoh yang dilatih kursus dipilih secara
tradisional ditunjuk menjadi murid kursus di lembaga kursus silat yang
didirikian Pak Dirjo mereka juga memiliki peran aktif seperti membantu melatih
berapa unit latihan Perisai Diri tepatnya di Museum Empu Tanturlar menjadi
tempat berlatih anggota siapa saja yang berminat belatih silat. Selain itu para
kader pertama juga melatih di kampus Airlanggan diadakan latihan silat untuk
mahasiswa, menjadi cikal bakal (UKM) Unit Kegiatan Mahasiswa silat Perisai Diri
di Surabaya, di kegiatan unit mahasiwa ini kader pertama Pak Dirjo juga ikut
serta membantu melatih para mahasiswa. Menjadi bagian para pelatih di UKM PD di
balai pertemuan Airlanggan latihan di adakan setiap hari rabu dan jumat.
Setelah
keluarnya kader pertama Perisai Diri karena permasalah tahun 1959. Mereka tidak
melatih lagi para mahasiswa, lalu pesilat UNAIR yang berlatih mem-bantu
mengkodisikan Perisai Diri yakni Pak Noerhasdi
setelah kepegian keluarnya para kader pertama. Pak Dirjo mengakat pelatih baru dari golongan mahasiswa
terdiri dari Noerhasdijanto, Suparjono, Bambang Mujiono dan Totok Sumantoro
berseta rekanlainya. Para anggota kemudian menyusun menulis AD/ART Perisai Diri
agar resmi menjadi perguruan bukan lagi kursus silat.
Para
kader pertama yang dari kursus silat terdiri dari 10 orang namun hanya satu yang
bertahan dan masih berhubungan baik dengan pendiri, serta masih melatih setelah
menjadi perguruan yakni Pak Yahya, karena kedekatannya secara emosional dengan
sang pendiri dan tidak terlibat konflik yang ada. Selain itu Pak Yahya memiliki
kedekatan berkat hobi yang sama dengan Pak Dijro selain berlatih silat yaitu
olahraga panahan. Pak Yahya sering berkunjung ke rumah Pak Dirjo membuat busur
panah dan berlatih panahan di depan rumah pribadi Pak Dirjo, kedekatan tersebut
menjadikan guru besar pendiri memberi keistimewaan mempercayai muridnya,
menjadi sebab pertimbangan mempertahankan satu orang kadernya Pak Yahya bertahan
menjadi anggota Perisai Diri dan masih melatih para juniornya. Kader yang
meninggalkan Perisai Diri pada tahun 1959 yaitu terdiri dari :
1. Wijayanto
2. Han
Zhong Lin
3. Kusman
Haji
4. Hariadi
5. Utomo
Surojo
6. Mas
Tri Samsuni
7. Mas
Bagyo
8. Mas
Mulyono
9. Simo
Pratopo.
3. Habatan Eksternal Perguruan Perisai Diri
Habatan eksterrnal Perisai Diri dalam perkem-bangannya
peguruan silat (PD) selepas menjadi sebuah peguruan kala itu mengalami habatan
masalah terutama pada karakter silat yang mana sebagai aliran pada tahun 60an
setelah resminya Perisai Diri dikenal menjadi perguruan beberapa praktisi
beladiri silat maupun asing mempertanyakan akan eksisteni perguruan baru silat
yang berdiri di Kota Surabaya. Kala itu
banyak yang berpendapat bahwa ajaran Perisai Diri tidak sesuai dengan kaidah
Pencak silat lataran geraknya amatlah berbeda dari silat pada umumnya yang
indah lembut erat akan unsur seni berbeda halnya silat Perisai Diri menampilkan
gaya gerak keras, deras dan tegas tidak menonjolkan keindahan seperti beladiri
Pencak silat pada umumnya di Nusantara.
Karakterya Perisai Diri kala itu dituding menye-rupai
beladiri Kungfu negeri Tiongkok, sedari kalangan praktsi beladiri Kungfu
menolak hadirnya Perisai Diri, dikarena Silat dan Kungfu merupakan jenis
beladiri yang berbeda dan para praktisi Kungfu kurang menyukai sosok Pak Dirjo
selaku pendekar berdarah pribumi, bahwasan Kungfu merupakan beladiri Tionghoa.
Hal ini bersumber pada sentimen etnis terhadap orang pribumi yang mampu
menguasai beladiri Kungfu karena pada umumnya kala itu Kungfu masih
diperuntukan kaum etnis Tionghoa, selain itu melihat jejak sejarah keilmuannya
Pak Dirjo beliau telah disumpah untuk tidak mengajarkan beladiri Kungfu kepada
kaum pribumi. Terjadi beberapa penolakan serta cemohan terhadap Perisai Diri
karena dianggap telah mengajarkan beladiri Kungfu bukanlah silat. Hal ini juga
didasari atas peristiwa kedatangan salah satu adik perguruan Pak Dirjo yang
merupakan murid Yap Kie San yakni Hartono dari perguruan Garuda Emas yang juga
belajar menguasai beladiri Kungfu dari Parakan adik seperguruanya, Hartono
datang dengan maksud menemui Pak Dirjo yang ada di Surabaya, untuk menegur
mempertanyakan ada aliran Perisai Diri. Pak Hartono mendengar infomasih bahwa
Pak Dirjo menga-jarkan ajaran Yap Kie San kepada murid pribumi. Atas
pertemuannya dengan Hartono adik sepergurunnya, Pak Dirjo kemudian menunjukan
teknik-teknik yang ia ramu di Perisai Diri bahwasanya berbeda dengan ilmu Kungfu
Yap Kie San, ditunjukan murid anggota Perisai Diri melakukan metode “Serang
Hindar” yang menjadi ciri khas silat di Perisai Diri dari sikap gerak pola
serangannya rangkain geraknya tidak sama persis namun dikembangan menjadi
varian baru beladiri oleh Pak Dirjo dituangkan menjadi bagian aliran Silat
bukan lah Kungfu.
Sedari pertemuan tersebut muncul titik terang mulai diketahui
bahwa Perisai Diri sungguhlah berbeda tidak mecuri maupun meniru utuh melaikan
tercipta sesuai dengan karakter beladiri silat, untuk itu Pak Dirjo juga menemui sesepuh praktisi beladiri Kungfu
yang ada di Surabaya dikawasan jalan Kapas dan jalan Jagalan. Mengujungi
klenteng Tionghoa yang mana kala itu menjadi basis praktisi beladiri Kungfu Pak
Dirjo pendiri Perisai Diri bersilaturahmi beberapa tokoh Tionghoa agar tidak
terjadi kesalah pahaman. Selai itu Pak Dirjo sebagai pendekar Jawa pribumi juga
memegang titel pendekar Kungfu pertemuan itu diharapkan menjadi jembatan antar
etnis saling berkompromi mengenai keilmuan beladiri saling menghargai nilai
budaya etnis yang ada, dari pertemuan tersebut juga dilakukan pertarungan per-sahabatan
dimana para praktisi Kungfu yang sebelumnya meragukan keahlian dari ilmu Pak
Dirjo karena merupakan seorang pribumi, namun dari pertarungan persahabatan
tersebut waktu itu dimenangkan oleh Pak Dirjo dari situlah keraguan para
praktisi Kungfu hilang justu mengakui keilmuan Perisai Diri. Terjalin hubungan
yang baik antara Perisai Diri dengan pendekar Kungfu mereka mengakui dan
menghormati pendiri Perisai Diri Pak Dirjo, setiap kali berkunjung ketempat
latihan praktisi Kungfu saat melintas beliau mendapat penghormatan dari para
murid dari kalangan etnis Tionghoa, dilain sisi Perisai Diri juga menerima
murid orang non-pribumi kalangan etnis Tionghoa seperti Han Zhong Lin dan Kwie
Hoe menjadikan beladiri silat Perisai Diri bukan hanya milik etnis tertentu
namun menerima berbagai kalangan memupupuk rasa kasih sayang dan kekeluargaan.
Mengingat Pak Dirjo juga pernah berguru pada pendekar etnis Tionghoa hal ini
menjadi bentuk timbal balik sebagai wujud pemersatu keberagaman saling
menghargai satu sama lain terlepas suku, agama, ras dan budaya yang dianut perguruan
Perisai Diri menerima berbagai kalangan.
4. Perkembangan Pergurun Perisai Diri Tahun 1970-1982
Pada tahun
1970 menjadi era perkembangan PD secara masif, terutama pada segi keanggotaan
mulai menyebar berbagai daerah selain di Kota Surabaya. Perguruan silat Perisai
Diri telah berkembang pesat sedari adanya AD/ART dibuat pertama kali pada tahun
1959 belanjut dia era 70 menjadikan Perisai
Diri lebih eksis benar-benar diterima oleh masyarakat Surabaya. Berapa kampus
dan unit latihan tumbuh mengiringi perkem-bangan yang ada, para anggota yang berlatih
semakin kuat melahirkan rasa keluargaan semakin erat bersama-sama menghidupkan
latihan silat Perisai Diri. 1970 Perguruan Perisai Diri berganti nama yang sebelumnya
Perisai Diri Saja menjadi “Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri” berserta
perubahan pada seragam silatnya yang dahulunya berwarna hitam menjadi putih. Tentunya
perubahan ini menjadi pro-kontra terutama pihak luar ekstrenal perguruan yang
mana beberapa kalangan praktisi beladiri dan masyarakat mengenali bahwasanya
perguruan Pencak silat identik berseragam hitam-hitam. Namun kali ini silat disuguhkan
warna seragam putih layaknya perguruan beladiri asing kala itu yang juga
digandrungi masyarakat yakni Karate dan Judo. perubahan seragam ini disebabkan
atas situasi sosial politik kala itu masa orde baru dimana situasi keamanan setelah
peristiwa 30sPKI. Muncul prasangka tudingan terhadap berapa perguruan silat yang
dicurigain berafliasi dengan kelompok terlarang, kelompok tersebut dicirikan
memakai pakean serba hitam. Terutama di kawasan Madiun, Ngawi dan Ponorogo
merupakan basis kelompok tersebut.
Perguruan
silat Perisai Diri juga ikut terdampak atas situasi politik kala itu terlebih,
ciri-ciri tundingan berbau politik ini dihidari oleh perguruan agar tidak mendapat
tudingan beraflisiasi dengan kelompok orga-nisasi terlarang berhaluan Komunis.
Adanya kekawatiran lantaran Perisai Diri pada tingkatan keluarga meng-gunakan
sabuk berwarna merah yang mana warna merah sabuk dan seragam hitam sering
dikaitkan dengan paham kiri kelompok organisai terlarang. Hal ini disampaikan
oleh Pendekar Historis Perisai Diri Bapak Hari dimana kala itu sekitar tahun
60an saat Perisai Diri pawai berombongan berjalan kaki dikawasan Wonokromo pada
ujian kenaikan tingkat (UKT) anggota Silat Perisai Diri nampak sangar
berkelompok dengan baris masa yang besar bekisar 300 orang, bepakaian serba
hitam dengan ikat sabuk berwarna merah, warna ini yang menjadi kekawatiran
anggota Perisia Diri sehingga pada akhirnya para anggota silat mengusulkan kepada
Pak Dirjo untuk merubah atribut seragam menjadi warna putih dengan masih mempertahakan
sabuk berwarna merah dengan tampilan baru seragam Perisai Diri layaknya bendera
merah putih sebagai bentuk wujud rasa Nasionalisme. Selain itu tertulis nama
dibelakang seragam Kelatnas Indonesia Perisai diri berserta dua lambang trisula
berwarna biru.
Tahun
1970 (PD) resmi berganti nama beserta atribut seragam dan berapa perlengkapan
simbol per-guruan. Hal ini merupakan peranan dari murid anggota Pak Dirjo yang didominasi
lulusan akademsi terpelajar yang ikut berkontribusi memberi masukan dalam
perkembangan pergurunan silat Perisai diri, bersumber rasa kepedulian, peka
akan kondisi bersosisal dan bernegara pada masa itu, berkat peranan para
anggota. Pak Dirjo kemudian mengkader memilih murid yang ia rasa layak ia beri latihan
tersendiri serta mendapatkan berapa hak-hak istimewa di Perisai Diri sebagai
bentuk apresiasi. Sampai puncak perkembanganya para murid anggota yang selama
ini berperan menjaga serta menum-buhkan Perisai Diri dianggkat menjadi pendekar
untuk pertama kalinya, yang mana selama bertahun-tahun Perisai Diri, Pak Dirjo
tidak mengakat muridnya lulus menjadi pendekar, atas dasar permasalah yang ada
pada tahun 1959 dan barulah di tahun 1982 diangkatnya lulus menjadi pendekar
berjumlah 23 orang.
C.
Peran
Pendekar Historis Perisai Diri Dalam Perkembangan Perguruan Tahun 1982
1. Perdekar Historis
Kelatnas Perisai Diri
Perkembangan
Perisai Diri mengalami puncak kejayannya pada tahun 1982 dimana Perisai Diri telah
perkembangan secara masif di Surabaya dengan beberapa unit latihan, memiliki
anggota yang besar serta telah menjadi salah satu perguruan silat disegani di
Kota Surabaya. Hal ini atas dukungan kerjasama anggota di Perguruan Perisai
Diri yang mana secara kekeluargan para anggotnya menumbuhkan rasa memiliki dan
men-cintai perguruannya dengan tidak bosan-bosannya rajin berlatih meletarikan
seni beladiri bangsa yakni Pencak Silat. Tercemin rasa kekeluargaan yang ada di
perguruan Perisai Diri sesuai dengan nama yang ditetapkan Tahun 1970 menjadi
Keluaga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri. Sebagai bentuk perkembangan atas
keberlang-sungan perguruan Perisai Diri yang ada di Kota Surabaya hingga mampu melebarkan cabang/unit latihan
silatnya diberbagai daerah, sampai ke sekala Nasional. Peran serta usaha tersebut
merupakan hasil kerja sama murid anggota perguruan Perisai Diri yakni sosok
yang digelari “Pendekar Historis Perisai Diri” mereka dipilih dan diseleksi
oleh guru besar Pak Dirjo yang mana kala itu para muridnya menyampaikan
keinginan terdalamnya untuk naik tingkatan, karena selama berlatih diperguruan
Perisai Diri tidak ada satupun para anggota murid yang diluluskan diangkat
menjadi pendekar, yakni bentuk pencapain tertinggi belatih silat. Terhambatnya
pengantan tingkat pendekar kala itu diakibatkan adanya krisis kepercayan serta
konflik di tahun 1959 yang melatar belakangi hal tersebut. Pak Dirjo tidak
ingin muridnya terpecah jika diberikan keilmuan secara utuh, agar tidak terjadi
kecemburuan maka setiap anggota murid yang terpilih diberikan ajaran teknik
sesuai porsinya masing-masing, tidak secara untuh diberikan. Mengingat kegagal
Pak Dirjo dimasalalu dengan keluarnya kader muridnya di tahun 1959, menjadikan
Perisai Diri selama bertahun tahun tidak mengangkat murid anggotanya ke tingkat
pendekar.
Tahun
1982 Pak Dijro pendiri Perisai Diri dirundung sakit dan mulai tidak bisa
beraktifitas normal di usianya yang menginjak 70 tahun, atas desakan murid
anggota merasa kawatir jika sepeninggal Pak Dirjo Perisai Diri tidak memiliki penerus,
sebagai pengganti sosok Pendekar dikawatirkan akan timbul masalah baru yakni
perpecahan antar sesama anggota memperdebatkan siapa yang berhak mewarisi
perguruan Perisai Diri. Maka dari itu para anggota murid Kelatnas Perisai Diri
yang selama ini mendampingi Pak Dirjo menyampaikan keinginanya untuk diangkat
lulus menjadi pendekar melanjutkan pengembangan perguruan.
Para
anggota Perisai Diri yang dekat dengan Pak Dirjo mengajukan berapa daftar nama
dan berkas siapa saja yang akan tunjuk pilih menjadi pendekar, dari berapa
daftar nama tersebut dalam berkas dipilihlan 23 orang yang mana akan diangkat
lulus menjadi pendekar tingkat kuning emas, label tingkatan yang sama dengan Pak
Dirjo. Untuk pertama kalinya bulan februari tahun 1982 Pendiri Perisai Dirimeluluskan
para anggotanya mendapat gelar kehormatan sebagai “Pendekar Histori Perisai Diri”
diantaranya sebagai berkut :
1. Suparjono, dari Surabaya.
2. Noerhasdijanto, dari
Surabaya.
3. Mat Kusen, dari Surabaya.
4. Hari Soejanto, dari Surabaya.
5. F.X. Supi'i, dari Surabaya.
6. Nanang Soemindarto, dari
Surabaya.
7. Hari Lasmono, dari Surabaya.
8. Siaman, dari Surabaya.
9. M. Hidajat, dari Surabaya.
10. Yahya Buari, dari Lamongan.
11. Tonny S. Kohartono, dari
Surabaya.
12. Mondo Satrio Hadi Prakoso,
dari Surabaya.
13. Koesnadi, dari Surabaya
14. Arnowo Adji, dari Tangerang.
15. Soegiarto Mertoprawiro, dari
Serang.
16. Totok Soemantoro, dari
Klaten.
17. Moeljono, dari Nganjuk.
18. Wardjiono, dari Jakarta.
19. Bambang Soekotjo Maxnoll,
dari Cimahi.
20. Gunawan Parikesit, dari
Semarang.
21. I Made Suwetja, dari
Denpasar.
22. I Gusti Ngurah Dilla, dari
Surabaya.
23. Ruddy J. Kapojos, dari
Surabaya.
2. Peran & Fungsi
Pendekar Historis Perisai Diri 1982
Pendekar
Historis Perisai Diri yang dilatik tahun 1982 merupakan hasil persetujuan Pak Dirjo
atas peranan mereka dalam perkembangan perguruan Perisai Diri sedari kursus
silat sampai menjadi sebuah perguruan silat Kelatnas Indonesia Perisai Diri
yang dikenal luas. Para Pendekar Historis Perisai Diri kala itu telah
menorehkan sejarah panjang dalam perananya mengembangan organisasi perguruan Perisai
Diri yang mana mereka diwarisi ilmu silat tekni baku ajaran dari Pak Dirjo. Pendekar
Perisai Diri terpilih pada waktu itu
sejumlah 23 orang dengan alasan tertentu yakni agar para murinya saling
berdiskusi membangun bersama-sama Perisai Diri sepeninggal pendiri yang kala
itu dirundung sakit.
Pak Dirjo
kala itu tidak memilih satu atau dua orang saja, tetapi secara kolektif
menunjuk kumpulan muridnya yang dirasa pantas secara teknik dan sikapnya agar
tidak terjadi konflik dan kecemburuan jika hanya memilih beberapa orang saja, Pak
Dirjo selaku pendiri pencipta aliran silat Perisai Diri justru mengakat banyak
muridnya secara sekaligus, karena para pendekar baru tersebut secara keilmuan
perindividu tidak ada yang paling menonjol atau di istimewakan namun satu
persatu telah diberikan keilmuan tersendiri dengan tujuan agar para pendekar yang
diluluskan tersebut secara bersama-sama saling berdikusi membutuhkan satu sama
lain. Maka keilmuan Perisai Diri yang telah diberikan Pak Dirjo selama berlatih
selama ini akan bermanfaat bagi keberlangsungan perguruaan dimasa yang akan datang semakin guyup dan kompak dalam
mengelolah keilmuan silat.
Setelah
resmi diangkatnya “Pendekar Historis” maka ditetapkan berbagai tugas tanggung
serta jawab selaku penerus Perguruan Perisai Diri yang mana para pendekar 1982 memiki
peran menjaga keberlangsungan perguruan, menjadi sumber keilmuan baku teknik Perisai
Diri, melatih dan menguji kenaikan tingkat pelatih Perisai Diri, mengakat
meluluskan pendekar baru dengan disah-kan disetujui para anggota Pendekar
Historis Perisai Diri tahun 1982, menyususn kurikulum keilmuan Kelatnas Perisai
Diri dan menjaga eksistensi perguruan,
termasuk menyelesaikan perselisihan diantara anggota Perisai Diri.
PENUTUP
Kesimpulan
Perguruan
Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri pada awalnya berdiri dari sebuah lembaga kursus silat yang didirikan
oleh R.M.Soebandiman Dirdjotmodjo tahun 1955 setelah Pak Dirjo dipindah
tugaskan dari Jogja ke Kota Surabaya tahun 1954 yang mana beliau sebelumnya telah
memiliki perguruan sendiri bernama Eka Kalbu. Keberadan kursus silat Perisai
Diri kala itu menjadi wadah awal mulanya perguruan PD terbentuk di latar
belakangi adanya konflik internal dengan para murid kader pertamanya dimana kursus
silatnya kala itu masih belum resmi menjadi sebuah perguruan, hanya menjadi wadah
sarana bagi Pak Dirjo mengembangkan beladiri Pencak silat di Surabaya.
Para
anggota terutama kader pertama memberi dampak signifikan dalam perkembangan
lembaga kursus silat, setelah para kader tersebut meninggalkan kursus silat
lantaran bersilih dengan sang pendiri mengakibatkan tidak luluskannya kader
pertama menjadi pendekar. Hal ini sangat berdampak pada keberlangsungan Perisai
Diri sehingga para murid di era selajutnya mengusulkan untuk dibuatkanya AD/ART
sebagai landasan organisasi per-guruan. Kemudian seiring perkembangannya Perisai
Diri telah resmi menjadi perguruan bertujuan agar murid anggota memilik rasa
tanggung jawab untuk berlatih dan patuh pada perguruan, menghindari permasalah
yang ada sebelumnya di kursus Perisai Diri. Setelah resmi menjadi sebuah perguruan Perisai Diri
memiliki materi teknik ajarnya sendiri hingga menjadi aliran beladiri silat
baru yang orisinil perpaduan beladiri Kungfu Shoilin dan Pencak silat.
Sepajang
perjalan pengembangnya para murid anggota yang berlatih diperguruan Perisai
Diri didominasi oleh para pelajar mahasiswa dan ditahun 1982 Pak Dirjo
mengangkat para murid anggotanya menjadi pendekar untuk pertama kali, sedari
1959 selepas kader pertama yang kala itu hengkang dari kursus silat, berselang bertahun-tahun kemudian diera 80an barulah Pak
Dirjo mengakat pendekar baru di Perisai Diri menggantikan peranannya sebagai
guru besar, pada waktu itu murid yang dilantik berjumlah 23 orang yang
diamatkan melanjutkan perkembangan pada perguruan Kelatnas Perisai Diri dengan
gelar “Pendekar Historis Perisai Diri” karena berkat para muridnya terutama Pendekar
Historis Perisai Diri lah yang telah menjadikan perguruan PD dapat bertahan
eksis di Kota Surabaya sampai sekala Nasional dari tahun 1959 sampai mereka
dilantik lulus menjadi pendekar di tahun 1982 sebagai bentuk apresiasi dalam
peranannya bagi perkembagan perguruan Perisai Diri di Surabaya.
Saran
Penelitian
ini diharapkan memberi sumbasih pengetahuan bagi masyarakat mengenai sejarah perkem-bangan
perguruan Kelatnas Indonesia Perisai Diri di Kota Surabaya, sebagai pusat
keilmuan awal dari perguruan Perisai Diri ini berdiri mewarnai perkembangan
Pencak silat di Kota Surabaya yang mana banyak pelajar dan masyarakat pada kala
itu menggemari beladiri asli indonesia tidak kalah bersaing dengan hadirnya
beladiri asing dari luar. Perlu adanya kesadaran serta kepedulian akan kelestarian
beladiri silat agar tetap lestari dapat dipelajari generasi mendatang serta
hambatan permasalah yang ada pada perkembangan perguruan Perisai Diri dapat
diselesaikan mengarah pada pertumbuhan beladiri silat yang lebih baik serta
harmonis sehingga mampu bersaing dan bertahan menghadapi perubahan zaman.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
1.
Aminuddin Kasdi, Memahami Sejarah, (Surabaya : Unesa Press,
2001)
2.
Hidayat, M. (2019). Mayor Jendral Imam Soedja'i:
Sumbangsih untuk Pergerakan Rakyat dan Revolusi
Indonesia. Jakarta: Direktorat Sejarah
Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan
3.
Madjid, M. Dien dan Wahyudhi,
Johan, Ilmu Sejarah: SebuahPengantar, (Jakarta: Kencana, 2014)
4.
Anik Juwariyah, Pencak Silat dan
Tari, (Surabaya : University Press IKIP Surabaya, 1995)
5.
O’ong
Maryono, Pencak silat Merentang Waktu, (Yogyakarta
: Yayasan Galang, 2000)
Sumber Jurnal Online
1.
Mardotillah
Mila, Silat :Identitas, Pendidikan, Seni
Beladiri, Dan Pemeliharaan Kesehatan, dalam Jurnal Jurnal Atropologi, Volume 18, No. 2, Juni 2017.
2.
Pratama, R. Y., & Trilaksana,
A. (2018). Perkembangan Ikatan Pencak
Silat Indonesia (IPSI) Tahun1948- 1973, dalam Jurnal AVATARA, Vol. 6, No.
3.
3.
Mellinia Milda Belgis, Perkembangan Organisasi Pencak Silat
Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Bojonegoro Tahun 1982-2016, dalam Jurnal Avatara ,Volume 12, No. 4 Tahun 2022.
Majalah
1. Majalah, (SIM) Seniman Indonesia Muda, Varian 992, Terbitan 9 Mei 1975.
Surat
Kabar
1. Pulangnya Sang Pendekar, Surabaya.
(Tempo. 17 Juni 1984)
2. Pengaruh
Perkembangan Karate di Indonesia
atas Perkembangan Pencak Silat. Kompas,17
Desember 1973.
Skripsi
1. Skripsi
Armar Habibi , Sejarah Pencak Silat Indonesia
(Studi Historis Perkembangan Persuadaraan Setia Hati Terate di Madiun Periode
tahun 1922-2000.
Internet
1. https://forum.idws.id/threads/kelatnas-perisai-diri.154287/,
diakses pada 15 juli 2022. Pukul 09.03
2. http://p2k.unkris.ac.id/id1/1-3065-2962/Perisai-Diri_94364_p2k-unkris.html,
diakses pada 19 juli 2022. Pukul 10.15
Media
Sosial
1. Acara Siaran RCTI Perisai Diri Silat Menembus Dunia Tahun
80an, YouTube, diunggah oleh A.a NUR, 25Mei 2019, https://youtu.be/p7R4UfUHJvg
Wawancara
Narasumber 1
Nama : Noerhasdijanto
Umur : 81 Tahun
Alamat : Jl. Puri Indah BC-18 Kota
Sidoarjo, Jawa Timur
Narasumber 2
Nama : Hari Soejanto
Umur : 79 Tahun
Alamat : Jl. Tenggilis Lama IV
No.54, Kota Surabaya, Jawa Timur
Narasumber 3
Nama : Choirul
Alam
Umur : 54 Tahun
Alamat : Pondok Candra Jl. Nanas VII No.
18 Sidoarjo, Jawa Timur