KOMODIFIKASI PEMBERITAAN KASUS PEMBUNUHAN PEREMPUAN DALAM KOPER DALAM PERSPEKTIF INKLUSI SOSIAL DI MEDIA ONLINE DETIK.COM, KOMPAS.COM, KUMPARAN.COM
COMMODIFICATION OF REPORTING ON THE MURDER CASE OF A WOMAN IN A SUITCASE FROM THE PERSPECTIVE OF SOCIAL INCLUSION IN ONLINE MEDIA DETIK.COM, KOMPAS.COM, KUMPARAN.COM
Pemberitaan kasus pembunuhan perempuan dalam koper di media online menunjukkan bagaimana logika industri media bekerja melalui persaingan perhatian publik, terutama ketika kasus kriminal dikemas secara dramatis untuk meningkatkan klik dan keterbacaan. Skripsi ini bertujuan menganalisis bentuk komodifikasi pemberitaan serta bagaimana media mengelola dilema antara imperatif komersial (menarik trafik) dan tanggung jawab etis terhadap korban, sekaligus menelaah implikasinya terhadap inklusi sosial korban kekerasan berbasis gender. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data dokumentasi, yaitu mengkaji teks berita terkait kasus tersebut pada media online Detik.com, Kompas.com, dan Kumparan.com. Analisis dilakukan menggunakan analisis framing Robert N. Entman (pendefinisian masalah, diagnosis penyebab, penilaian moral, dan rekomendasi solusi) yang kemudian diperdalam dengan perspektif komodifikasi media dan kekerasan simbolik, serta dikaitkan dengan konsep konstruksi sosial dan inklusi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberitaan cenderung menonjolkan unsur sensasional berupa kronologi, detail kekerasan, dan diksi dramatis, sehingga korban kerap diposisikan sebagai objek konsumsi publik; pada banyak bagian, konteks struktural seperti isu kekerasan terhadap perempuan, perlindungan korban, dan edukasi pencegahan tidak menjadi fokus utama. Perbedaan penekanan antar media tetap ada misalnya penekanan pada kronologi yang menarik perhatian, penegasan proses hukum, atau penempatan kasus sebagai tragedi sosial namun secara umum komodifikasi membuat publik lebih berperan sebagai penonton daripada pembela korban. Dengan demikian, praktik pemberitaan semacam ini berpotensi melemahkan upaya inklusi sosial karena mengaburkan martabat korban, memperkuat stigma, dan mengurangi ruang advokasi berbasis keadilan gender.
Kata kunci: komodifikasi media, framing, kekerasan terhadap perempuan, media online, inklusi sosial.
Online news coverage of the “woman found in a suitcase” murder case illustrates how digital media industries operate within an attention-driven market, where criminal stories are frequently dramatized to boost clicks and readership. This thesis aims to examine the commodification of news content and the ways media outlets navigate the tension between commercial imperatives (traffic maximization) and ethical responsibility toward victims, while also assessing its implications for social inclusion in the context of gender-based violence. The study applies a qualitative approach using documentation techniques, analyzing relevant news texts published by Detik.com, Kompas.com, and Kumparan.com. Data are examined through Robert N. Entman’s framing analysis (problem definition, causal interpretation, moral evaluation, and treatment recommendation), enriched by perspectives on media commodification and symbolic violence, and connected to social construction and social inclusion frameworks. The findings indicate that coverage often prioritizes sensational elements such as dramatic chronology, explicit violence details, and provocative diction thereby turning the victim into a consumable public object; meanwhile, broader structural contexts (gender-based violence, victim protection, and prevention-oriented education) receive limited attention. Although each outlet shows different emphases ranging from sensational crime narratives, law-and-order framing, to broader social tragedy commodification generally encourages audiences to become spectators rather than advocates. Consequently, such reporting practices may undermine social inclusion by obscuring the victim’s dignity, reinforcing stigma, and weakening gender-justice-oriented advocacy.
Keywords: media commodification, framing, violence against women, online media, social inclusion.